Page 194 - Supernova 4, Partikel
P. 194

menu vegan, organik, dan menyediakan taman luas untuk meditasi.

          “Memang inilah yang dicari orang di Glastonbury,” jelasnya, “for them, coming here it’s
        a spiritual retreat. For us, it’s business.”




        Keesokan paginya, aku sarapan roti gandum utuh, telur acak, dan semangkuk besar salad
        organik. Aku menjadi orang yang terakhir sarapan. Semua penghuni lain di sana adalah

        peserta simposium dan mereka sudah berangkat lebih pagi.

          “You’re not going?” tanyaku kepada Elena yang duduk menemaniku.

          Elena  mengibaskan  rambut  sebahunya  yang  sudah  bercampur  warna  antara  putih  dan
        pirang,  “Nothing excites me anymore.”  Ia  menyeruput  tehnya,  “Pada  akhirnya,  seluruh
        hidup kita menjadi spiritual tanpa perlu dicari-cari. When you get to my age, you’ll know
        what I mean.”

          Usia Elena mungkin sama atau lebih tua sedikit daripada Abah, tapi sikapnya yang easy
        going membuatku seperti ngobrol dengan teman sebaya.


          “Kamu? Sudah tahu mau ke mana hari ini?” tanyanya balik.

          “I think so,” jawabku. “Saya mau ke alamat ini.”

          Elena  membenarkan  posisi  kacamatanya,  membaca.  “Weston  Palace?”  ia  menatapku
        tajam. “THE Weston Palace?” ulangnya dengan penekanan.

          Aku balik menatapnya. Terheran-heran.

          Elena tertawa kecil. “I should’ve known. Pantas saja. Kamu dari Indonesia, ya? Masih
        keluarga Hardiman?”

          Cara Elena mengucapkan “Hardiman” lebih mirip bule yang berusaha melafalkan bahasa
        Indonesia.  Sebaliknya,  “Hardiman”  dalam  benakku  lebih  mirip  seperti  orang  Indonesia

        mengucap “Hardy-man”.

          “Simon Hardiman… itu… orang Indonesia?”

          “You don’t know him?” Elena gantian bingung.

          “No. Should I?”

          “You’re looking for him. But, you don’t know the person?”

          “Saya cuma mau cari orang yang tinggal di alamat ini.”

          “Well, it’s quite same, isn’t it?” Elena terbahak. “He’s the legendary Hardiman! Orang
        asing yang membeli salah satu properti termahal di kota ini. Of course we all know him.”

          Aku tertegun lama di tempatku. Pengirim kamera misterius itu ternyata orang Indonesia?
        Apa pun hubungan antara orang bernama Simon Hardiman dan ayahku, gerbang jawaban

        yang kutunggu-tunggu akhirnya mulai terlihat.
          “Saya harus pergi,” kataku sembari menenggak tandas sisa tehku.
   189   190   191   192   193   194   195   196   197   198   199