Page 186 - Supernova 4, Partikel
P. 186

my fault.”

          Kutatap  Storm,  sebisaku.  Kenanganku  tentangnya  tidak  sepanjang  kenanganku  akan
        Koso. Itu sudah jelas. Tapi, posisi Storm teramat pasti. Ia segalanya. Ia cinta pertamaku. Ia
        harapan  hidupku  di  bumi  yang  sekarat  ini.  Mendapatkannya  berdiri  di  depanku,
        memintaku untuk menyalahkannya atas apa yang terjadi….

          “Saya juga nggak ngerti kamu ngomong apa,” aku berbisik dan memungut syalku yang

        terjatuh.

          Aku keluar dari apartemen Storm saat itu juga. Limbung. Inikah tanggal itu? Tanggal
        yang  akan  kulingkari  di  agendaku  sebagai  tanggal  putus?  Kenapa  dulu  aku  sempat
        mendamba tanggal jadi? Kalau saja tanggal itu tak ada, mungkin rasanya tak sesakit ini.

          Kupercepat langkahku sampai akhirnya berlari. Aku salah, rutukku. Ada atau tak ada
        tanggal, sakitnya akan tetap seperti ini. Cintaku kepada Storm menembus batasan waktu.
        Menembus batasan akal. Karena itulah, aku buta. Tak kulihat apa yang seharusnya sudah
        lama terlihat.





        Pikiranku  terfokus  pada  satu  hal:  mengambil  barang-barangku  dari  apartemen  Koso.
        Sepanjang jalan, dalam kepalaku kususun daftar baju mana saja yang kubawa, barang apa
        saja yang kuperlukan, di mana nanti kutinggalkan kunciku.

          Sesampainya di apartemen Koso, bagai robot, kueksekusi daftar dalam kepalaku dengan
        rapi.  Mendapatkan  hidupku  kembali  muat  ke  dalam  satu  ransel.  Lalu  kuraih  telepon,

        menghubungi nomor yang ada di speed dial. Zach. Paul. Salah satu. Siapa saja. Aku butuh
        tempat bicara. Tempat berpijak.

          Ternyata,  aku  masih  punya  cadangan  sejumput  nasib  baik.  Zach  dan  Paul  sedang
        bersama-sama. Saat kutelepon Paul, dua pria itu tengah menikmati weak cappuccino di
        Kafe  Emporio  langganan  mereka  untuk  membicarakan  proyek  perjalanan  The  A-Team
        selanjutnya  ke  Patagonia.  Langsung  kusampirkan  ranselku,  menyusul  mereka  sambil
        berpikir mungkin aku akan memesan secangkir kopi susu encer juga.


          Di dalam kereta, di kepalaku berputar berulang-ulang kalimat-kalimat terakhir Koso dan
        Storm. Aku betulan tak memahami omongan mereka. Sama sekali.

          Kalimat Koso sungguh tak masuk akal. Jika ia tidak berniat menyakitiku, jelas ada satu
        persimpangan dalam keputusannya yang akhirnya menempatkan aku sebagai orang yang
        disakiti dan ia sebagai pihak yang menyakiti. Bagaimana ia bisa bilang ia tidak punya niat
        itu? Dan, kenapa ia tidak mengirim suratnya ke sekolah, tempat aku membusuk setahun
        lebih  lama  demi  membantunya?  Jelaslah  kini.  Koso  tak  pernah  benar-benar  berusaha

        menghubungiku.

          Storm  berkata  bahwa  dialah  pihak  yang  perlu  dipersalahkan.  Omong  kosong.
        Pengkhianatan ada dalam batin setiap manusia, hanya menunggu momen yang tepat untuk
        menyeruak,  dirayakan,  dan  diamini  sebagai  titik  lemah  dari  kemanusiaan.  Mengatakan
        bahwa  ia  yang  bertanggung  jawab  adalah  kebodohan  dan  kesombongan.  Storm  adalah
   181   182   183   184   185   186   187   188   189   190   191