Page 192 - Supernova 4, Partikel
P. 192

Terkecuali tugas pertamaku di Kenya, tak sekali pun Paul pernah mengantarku lagi. Tapi,
        perjalanan yang satu ini berbeda. Prioritas Paul selama ini adalah memutus pelarianku,
        dan akhirnya ia berhasil berkontribusi secarik petunjuk agar aku berhenti berlari. Ia hadir
        untuk memastikan kegenapan kontribusinya.

          “Kamu pasti nggak telepon orangnya dulu. Ngaku,” tuding Paul sambil menyerahkan

        tiket busku.
          Aku menggeleng.


          “It will be wise if you call first.”

          “Kalau  ini  satu-satunya  petunjuk  di  dunia  yang  tersisa  untuk  menemukan  ayah  saya,
        akan saya selidiki dengan segala kekuatan yang saya punya. Do you seriously think I will
        back out if nobody answers my call? No way, Paul. I’m going there myself.”

          “I’m coming with you.” Paul mengacungkan selembar tiket lagi.

          Secepat kilat aku menyambar tiket di tangannya. Dan, untuk bisa merampas dari tangan
        Paul, aku harus melompat tinggi seolah membidik ring basket. “No. You return this ticket.
        Now. Saya pergi sendiri.”

          “Kenapa, sih, kamu keras kepala banget jadi orang?” seru Paul gemas.


          “You’ve done so much already, Paul,” kataku lembut. Kukembalikan tiketnya baik-baik.
        “Perjalanan yang satu ini adalah jatah saya sendirian,” tegasku lagi.

          “Saya  cukup  kenal  kamu  untuk  bisa  yakin  kamu  baik-baik  saja,  tapi  ini  bukan  cuma
        masalah kamu pulang ke London dengan selamat, Zarah,” Paul tersenyum getir. “I can’t
        see you being crushed anymore. By your own hope.”

          Sebagai jawaban, aku mendekap Paul. Lama. Meski terasa ragu, lengan-lengannya yang
        kekar  dan  berbulu  akhirnya  balas  mendekapku.  Tidak  ada  yang  bisa  menciptakan  rasa
        aman  seperti  Paul.  Ia  membuatku  seolah  bersahabat  dengan  Yeti.  Dan,  jika  kau  bisa

        menundukkan Yeti, kau bisa menundukkan apa saja.

          “From where I am now, the only way to go is up, Paul. I hit my rock bottom. I’ll be
        fine,” bisikku.

          “You take care,” Paul melepaskan pelukannya. “I’m always here.”

          Aku memandangi Paul yang berjalan pergi. Langkah-langkahnya yang besar membuat ia
        menjauh  dengan  cepat.  Baru  saja  aku  mau  membalik  badan,  tiba-tiba  terdengar  Paul
        berlari. Dengan lebih cepat lagi ia kembali di hadapanku. Pinggangku direngkuh dan ia
        mendaratkan sebuah ciuman. Setengah mendarat di pipi, dan setengah lagi mendarat di

        bibir.  Sama  terburu-burunya,  ia  kemudian  melepas  tubuhku,  tersenyum  gugup,  yang
        kubalas sama gugupnya. Lalu, ia pergi.

          Sepanjang  perjalananku  di  bus,  bayangan  Paul  terus  menghantui.  Sekejap  tatapannya
        sebelum ia mendekat, senyum gugupnya, ciumannya yang ambigu, menciptakan lingkaran
        pertanyaan  di  benakku.  Di  antara  pertanyaan-pertanyaan  itu,  terselip  pertanyaan  bagi
   187   188   189   190   191   192   193   194   195   196   197