Page 195 - Supernova 4, Partikel
P. 195

“Kalau saya jadi kamu, saya nggak akan buang waktu ke Weston Palace. Hardiman tidak
        di sana,” sahut Elena.

          “And where is he?”

          “Glastonbury Symposium,” Elena menjawab kalem. “Hardiman langganan jadi donatur
        acara itu. I even believe he’s one of the founders.”

                                                                                                               2.

        Hari itu adalah hari kedua dari rangkaian tiga hari Glastonbury Symposium. Sesi pertama

        sudah dibuka sejak pukul sembilan tadi. Aku baru tiba di Town Hall pukul sebelas kurang.
        Bertepatan  dengan  dimulainya  sesi  kedua.  Tak  ada  pilihan  lain.  Kuputuskan  untuk
        membeli tiket dan ikut duduk mengikuti acara.

          Sesi kedua ini menghadirkan seorang syaman kontemporer yang juga ahli etnobotani.
        Sesinya akan membahas kebangkitan syamanisme dan relevansinya dengan era modern.

          Perhatianku  tidak  sepenuhnya  di  acara.  Aku  sibuk  celingak-celinguk  mencari  sosok
        orang Indonesia di ruangan. Tidak mungkin sesusah itu,  pikirku.  Jika  Simon  Hardiman
        betul orang Indonesia, pasti rambut hitam dan kulit sawo matang akan menonjolkannya di

        tengah orang-orang kaukasoid ini. Tak lama, aku meralat diriku sendiri. Simon Hardiman
        bisa saja keturunan Tionghoa, atau ras campuran alias Indo. Sejauh mata memandang, tak
        kutemukan tanda-tanda orang Indonesia menyelip di ruangan. Kecuali aku.

          Setengah hati, kudengarkan celotehan pembicara bernama Hawkeye Apachito ini. Dari
        namanya  di  jadwal  acara,  aku  pikir  Hawkeye  akan  bertampang  Indian  dengan  kulit
        kemerahan, tulang pipi menonjol, mata tipis, hidung panjang. Beda total. Hawkeye adalah
        pria bule beraksen Amerika, bermata biru, dengan rambut pirang yang sudah memutih.

        Aksesori kalung manik bercampur bulu dan rambut panjang diikat satu adalah karakter
        fisik satu-satunya yang mirip Indian. Lainnya tidak.

          Pada sesinya itu, Hawkeye menjelaskan figur syaman. Syaman dipercaya sebagai figur
        yang menjadi perantara dunia materi dan dunia spirit. Mengandalkan koneksinya dengan
        entitas spirit, seorang syaman dapat menyeberang bolak-balik antar-kedua dunia. Seorang
        syaman  punya  kemampuan  berkomunikasi  dengan  bermacam-macam  spirit  yang  ada
        dalam setiap makhluk. Di mata seorang syaman, binatang seperti jaguar bukan semata-

        mata  sejenis  kucing  besar  dengan  bulu  totol-totol,  spirit  jaguar  adalah  pemandu  yang
        mampu  mencarikan  solusi  di  medan  paling  chaos  sekalipun.  Orca,  bukan  semata-mata
        predator  lautan,  spirit  orca  adalah  figur  mahatahu  yang  menyimpan  memori  terjadinya
        kosmos. Sementara ular adalah figur penjaga jalur keluar-masuknya dunia spirit.

          Menurut Hawkeye, terputusnya hubungan manusia dengan alam diindikasikan dengan
        praktik syamanisme yang tergusur. Berbarengan dengan itu, hewan-hewan yang mewakili
        figur spirit tadi semakin langka dalam jumlah, habitat mereka dilalap, dan hutan semakin

        terdesak. Bumi mengalami krisis karena relasi manusia dengan Bumi semakin mekanistis.
        Alam ini tidak lagi dilihat sebagai bermukimnya spirit-spirit luhur, tetapi sebatas kekayaan
        flora dan fauna yang bisa dieksploitasi kapan saja.

          Bukan  cuma  hewan,  setiap  tumbuhan  juga  memiliki  spirit.  Kerajaan  tumbuhan
   190   191   192   193   194   195   196   197   198   199   200