Page 200 - Supernova 4, Partikel
P. 200

“Gimana Nikon Titanium saya? Belum rusak?”




        Kami makan siang semeja. Aku tak menyentuh makananku sama sekali. Fokusku ada di
        hal lain. Lagi pula, hanya orang Inggris yang berani menyebut roti lapis dingin, potongan

        ikan goreng tepung, dan sepiring keripik kentang sebagai “makan siang”. Bagi perutku, itu
        lebih mirip camilan baca buku.

          Setelah  bertemu  langsung,  barulah  aku  memahami  mengapa  aku  tidak  berhasil
        menemukan pria itu di antara peserta. Tubuh Pak Simon ramping dan proporsional, tapi
        tingginya hanya sedadaku. Kedua, ia duduk di barisan paling depan. Dengan tinggi badan
        demikian, tenggelamlah Pak Simon di sandaran kursi. Belum lagi, batok kepalanya yang
        sudah  jarang  ditumbuhi  rambut  menyarukan  profil  orang  Asia  berambut  hitam  yang

        kucari-cari.

          Aku pun mengamati satu keanehan. Pak Simon tidak kelihatan membutuhkan tongkat. Ia
        berjalan tegap dengan langkah-langkah gesit. Namun, tak sekali pun ia melangkahkan kaki
        tanpa iringan tongkat kayu berwarna hitam itu.

          “Enam tahun yang lalu saya mengirimkan paket untuk seorang anak bernama Zarah,” ia
        berkata. Terdeteksi logat Jawa membayangi pengucapannya. “Siapa sangka tahu-tahu hari
        ini anak yang sama muncul di Glastonbury Symposium? Begitu lihat kamu berdiri dan
        menyebutkan  namamu,  saya  langsung  yakin,  kamu  anak  yang  sama,”  lanjutnya  sambil

        tersenyum.

          “Kenapa Bapak kirim kamera itu ke saya? Kenapa harus anonim? Apa hubungan Bapak
        dengan ayah saya?” berondongku tak tertahan.

          Pak Simon tertegun. “Sebentar. Bukan Firas yang memberitahumu untuk kemari?”

          Kepalaku seperti ingin meletus. Luapan emosi dan buncahan pertanyaan yang selama ini
        terpendam rasanya serempak meledak.

          “Pak, kamera itulah yang membawa saya sampai ke Inggris,” kataku gemetar, “kamera
        itu juga satu-satunya petunjuk yang saya punya untuk menemukan ayah saya. Saya nggak

        tahu alasan Bapak mengirim kamera itu, tapi saya yakin ada hubungannya dengan ayah
        saya. Karena cuma dia di dunia ini yang dengan spesifik pernah menjanjikan kepada saya
        kamera di ulang tahun saya yang ketujuh belas!” ucapku setengah meratap.

          “Ayahmu hilang?”

          “Saya, Ibu, dan adik perempuan saya, sudah dua belas tahun nggak dengar kabar apa-apa
        dari Ayah. Dia masih hidup atau nggak, kami juga nggak tahu,” ucapku getir. “Teman saya
        berhasil melacak kamera itu, dan muncullah nama Bapak. Saya selalu merasa kedatangan
        saya ke Inggris cuma karena keberuntungan, tapi sekarang saya yakin, saya bisa kemari

        karena  saya  diberi  kesempatan  untuk  menemukan  Ayah.  Lewat  Bapak.  Jadi…,”  aku
        menelan ludah, “pertanyaan saya cuma satu. Bapak tahu di mana ayah saya?”

          Pak  Simon  tidak  langsung  menjawab.  Ia  mengusap  wajahnya,  mengetuk-ngetukkan
        jarinya di meja, menghela napas berat berkali-kali. Gelisah. Berpikir.
   195   196   197   198   199   200   201   202   203   204   205