Page 205 - Supernova 4, Partikel
P. 205

antara  jaringan  laba-laba  yang  sangat  luas.  Saya  jadi  bertemu  crop  circle,  metafisika,
        syamanisme,  enteogen,  meditasi,  dream  yoga,  antropologi,  fisika  kuantum,  bio-energi,
        hipnosis—semua hal yang tadinya tidak saya tahu sama sekali. Saya ke Tibet, India, Peru,
        Meksiko,  Amerika  Serikat,  Jepang,  Afrika,  Mesir—di  mana  pun  saya  mengendus
        jawaban, akan saya gali dan cari sebisanya.”

          Pak  Simon  sejenak  berhenti,  menatapku,  “Sampai  suatu  hari  saya  berkenalan  dengan

        Firas. Ayahmu.”

          “Bapak pernah ketemu ayah saya?”

          “Tidak, kami cuma korespondensi. Padahal, saya ingin sekali bertemu ayahmu,” jawab
        Pak  Simon.  “Saya  mengenalnya  lewat  seorang  teman,  profesor  di  Oxford.  Dia  ahli
        Mikologi.  Samuel  Brennard,  namanya.  Suatu  hari,  Samuel  mengontak  saya,  bilang  ada
        orang dari Indonesia yang mengiriminya surat. Samuel tidak tertarik merespons surat itu.
        Katanya, ‘that letter comes from a twilight zone.’ Berhubung Samuel tahu hal-hal seperti

        itu justru menarik buat saya, dia lalu mengirimkan surat ayahmu.”

          “Saya ingat masa-masa itu,” aku menyambar. “Ayah mengirimkan entah berapa banyak
        surat ke luar negeri. Dia bilang, dia ingin cari sponsor untuk penelitiannya.”

          “Kamu tahu penelitian apa yang dia maksud?”

          Aku menggeleng.

          “Inner space travel,” jawab Pak Simon.

          Alisku mencureng. “Apa itu, Pak? Ayah nggak pernah cerita.”

          “Ayahmu mengerti prinsip polaritas yang berlaku di realitas ini. Seseorang tidak akan
        mungkin menaklukkan angkasa luar kalau ia belum menaklukkan alam batinnya. Seberapa
        jauh  umat  manusia  mengeksplorasi  alam  batinnya,  sebatas  itu  pulalah  kita  bisa

        mengeksplorasi angkasa. Perjalanan manusia selalu dua arah. Ke dalam dan ke luar. Tidak
        bisa menegasi satu untuk mencapai satu lainnya.”

          “Eksplorasi alam batin? Bukannya itu sudah dilakukan Jung? Freud?” aku menyela.

          “Psikoanalisis cuma bisa menggaruk permukaan, Zarah. Sementara yang perlu diselami
        itu ibaratnya lebih dalam daripada palung laut. Cara konvensional yang kita punya hanya
        mengandalkan  alam  sadar  untuk  mengerti  alam  bawah  sadar.  Mana  bisa?  Kemampuan
        alam sadar kita sangat terbatas. Ayahmu mengerti itu. Karena itulah dia putus asa. Dia

        merasa dunia sains konvensional yang jadi topangannya terlalu kaku, nggak terbuka, dan
        sangat terbatas.”

          “Saya  yakin,  dari  puluhan  surat  yang  Ayah  kirimkan,  cuma  Bapak  yang  membalas,”
        ucapku getir. Antara bertanya dan menyimpulkan.

          “Kamu betul. Dan, saya bukan akademisi. Ayahmu bahkan nggak menujukan suratnya
        kepada  saya.  Dia  sama  sekali  tidak  tahu  saya  siapa.  Secara  kebetulanlah  kami  jadi
        terhubungkan, well, kalau memang ada hal yang kebetulan dalam hidup ini,” Pak Simon
        mengangkat bahu.
   200   201   202   203   204   205   206   207   208   209   210