Page 201 - Supernova 4, Partikel
P. 201

“Saya tidak tahu dia di mana, Zarah,” akhirnya ia berkata tegas. “Tapi, saya mungkin
        satu-satunya orang yang bisa membantu kamu mencarinya.”

                                                                                                               4.

        Untuk memulai misi pencarian ini, Pak Simon mensyaratkan tiga hal. Pertama, aku harus
        mengepak  barang-barangku  dari  tempat  Elena  dan  pindah  ke  Weston  Palace.  Kedua,
        berhubung  rangkaian  Glastonbury  Symposium  merupakan  hajatan  pribadi  baginya,  aku

        diminta  mengikuti  dulu  semua  kegiatan  simposium  hingga  tuntas.  Ketiga,  percaya
        sepenuhnya  kepada  metode  yang  akan  ia  tempuh.  Dengan  cepat  kuiyakan  ketiga
        syaratnya. Tanpa ragu. Ia satu-satunya peluang yang kupunya.

          Sore itu juga, aku pamit kepada Elena. Menaiki taksi, aku pergi ke Weston Palace yang
        letaknya di daerah perbukitan, tak jauh dari Tor.

          Ketika taksi kami melewati gerbang besi tinggi yang terbuka secara otomatis, hamparan
        taman  hijau  yang  tak  kulihat  tepinya  menyambut  kami,  barulah  aku  tersadar  apa  yang
        dikatakan  Elena  tentang  Simon  Hardiman.  Weston  Palace  memang  istana  dalam  arti

        sesungguhnya. Ketika salah satu bangunan termewah di kota ini dibeli pendatang, orang
        itu pasti jadi pusat perhatian.

          Dari hasil mengobrol dengan sopir taksi dan Elena, aku jadi tahu bahwa Weston Palace
        adalah salah satu bangunan aristokrat Inggris yang satu per satu jatuh ke pembeli asing.
        Weston  Palace,  bangunan  bersejarah  yang  tadinya  diperuntukkan  sebagai  rumah
        peristirahatan  salah  satu  ningrat  kerajaan  Inggris  itu  sudah  sempat  mau  dijadikan  hotel
        butik.  Apalagi,  lokasinya  dekat  dengan  Tor  yang  merupakan  tujuan  wisata  utama

        Glastonbury. Rencana tersebut bubar begitu seorang konglomerat dari Indonesia bernama
        Simon Hardiman membeli lelang properti itu dengan harga paling tinggi.

          Pintu  besar  gaya  arsitektur  Baroque  itu  membuka.  Seorang  pria  Inggris  tinggi  besar
        berseragam butler tersenyum tipis, “Miss Amala? Please, come in. My name is Robert. At
        your service.” Dengan cekatan ia menenteng tasku.

          Aku mengikuti langkah Robert yang baru saja dengan elegannya memanggilku “Miss
        Amala”. Satu pengalaman baru.

          “Mr. Hardiman is waiting in the library,”  jelas  Robert  lagi.  Langkahnya  yang  besar-

        besar  membuatku  kehilangan  kesempatan  menikmati  pemandangan  spektakuler  ini.
        Langit-langit  tinggi  dengan  chandelier  bertingkat-tingkat,  jendela-jendela  dengan  tirai
        besar  yang  menandingi  tirai  bioskop,  lukisan-lukisan  bangsawan  entah  siapa,  kursi  dan
        lemari  berwarna  tembaga  keemasan  dengan  ukiran  meliuk-liuk.  Aku  merasa  sedang
        memasuki kastel dongeng.

          Dongeng itu makin surealistis ketika sosok Simon Hardiman menungguku dengan dua
        cangkir dan sepoci teh. Semua kemewahan Inggris klasik yang tadi kulihat dimiliki oleh

        bapak berjins dan berkemeja flanel ini.

          “Zarah, selamat datang di Weston,” Pak Simon tersenyum. “Saya senang bisa ngobrol
        bahasa Indonesia lagi.”

          Setelah menuangkan teh, Robert pun pamit pergi sambil membawa tasku untuk diantar
   196   197   198   199   200   201   202   203   204   205   206