Page 203 - Supernova 4, Partikel
P. 203

merasa  tubuh  fisiknya  ambruk.  Anehnya,  Pak  Simon  tetap  merasa  bisa  bergerak  dan
        berjalan. Segalanya menjadi ringan.

          Pak Simon berusaha mencari arah di dalam ruang serbaputih itu, dan tiba-tiba muncul
        sesosok makhluk, kira-kira dua setengah meter tingginya, bertubuh sangat kurus dengan
        kepala besar, kulitnya pucat dan licin seperti pualam, kedua matanya berupa bulatan bola
        hitam.  Ia  kelihatan  ringan,  mirip  melayang.  Ia  tak  bersuara.  Pak  Simon  hanya  bisa

        merasakan makhluk itu berkomunikasi dengannya.

          “Saya nggak dengar apa-apa, tapi di kepala saya muncul berbagai informasi yang saya
        tahu itu disampaikan olehnya. Seperti telepati,” lanjut Pak Simon. “Dia bilang, dia tidak
        bermaksud jahat. Dia ingin membantu. Dan, dia perlu menunjukkan sesuatu.”

          Bertepatan  dengan  masuknya  arus  informasi  itu,  ruang  serbaputih  yang  tadinya  tidak
        kelihatan  apa-apa  mulai  menunjukkan  bentuk.  Pak  Simon  ternyata  berada  di  semacam
        ruang  konsol  yang  besar.  Atap  ruang  konsol  itu  membundar  seperti  kubah.  Tempat  itu

        ternyata  sangat  sibuk.  Makhluk-makhluk  tinggi  serupa  terlihat  hilir  mudik.  Ada  juga
        makhluk-makhluk  versi  mini  dari  mereka.  Bentuknya  mirip,  tapi  tingginya  hanya  satu
        meteran.

          Makhluk  pertama  yang  menyapanya  itu  tidak  menyebutkan  nama,  tapi  Pak  Simon
        merasa bahwa ia adalah pemimpin di sana. Sang Pemimpin bercerita bahwa mereka telah
        lama  memiliki  hubungan  khusus  dengan  Planet  Bumi  dan  ras  manusia.  Ia  berbicara
        tentang evolusi dan transisi dari dimensi tiga menuju dimensi lima.

          “Saya bertanya, kenapa bukan empat? Tapi, langsung lima? Dan, ia menjawab, karena

        dimensi empat tidak bisa ditempati lama-lama, hanya semacam persinggahan,” jelas Pak
        Simon. Lebih lanjut ia menjelaskan bahwa semakin tinggi dimensi, aspek materi semakin
        memudar.  Dimensi  tiga  yang  kita  tempati  adalah  tempat  di  mana  terjadi  polaritas
        sempurna. Aspek materi dan gelombang, aspek fisik dan aspek batin, logika dan emosi.
        Segalanya serba-setengah-setengah. Dampaknya adalah realitas manusia selalu punya dua

        ekstrem.
          Sang Pemimpin mengatakan bahwa Bumi dan kehidupan dimensi tiga adalah kehidupan

        yang  paling  menantang.  Dibutuhkan  keberanian  untuk  terlahir  di  sini.  Manusia  harus
        berhadapan  dengan  emosi,  dengan  perasaan,  dengan  keterbatasan  fisik.  Ia  dan  rasnya,
        adalah salah satu ras relawan yang membantu ras manusia bertransisi. Untuk itu, mereka
        terkadang harus melakukan intervensi.

          “Saya  tanya,  intervensi  semacam  apa.  Dia  tidak  menjawab.  Tahu-tahu,  saya  sudah
        telentang.  Beberapa  makhluk,  yang  saya  rasa  semacam  dokter  dengan  para  asistennya,
        mengelilingi saya. Walau rasanya nggak sakit, saya bisa merasakan sensasi kepala saya

        ditembus. Mereka menanam sesuatu di situ. Saya nggak tahu apa,” tutur Pak Simon.

          Setelah  “operasi”  itu  selesai,  sang  Pemimpin  kembali  datang  menghampirinya.
        Mengucapkan terima kasih dan meyakinkannya lagi bahwa niatannya baik dan Pak Simon
        akan  baik-baik  saja.  Tak  lama,  terdengar  lagi  dengingan  memekakkan  di  telinganya.
        Pandangannya  kembali  putih  menyilaukan.  Lambat  laun,  badannya  tak  ringan  lagi.
        Tertarik oleh gravitasi.
   198   199   200   201   202   203   204   205   206   207   208