Page 204 - Supernova 4, Partikel
P. 204

“Saya  kembali  ke  rumah  saya.  Terkapar  di  lantai.  Kuas  saya  sudah  jatuh.  Palet  saya
        berserakan. Ada coretan di kanvas yang nggak sengaja saya buat waktu tahu-tahu saya
        pindah  ke  tempat  itu,”  Pak  Simon  berhenti  sejenak  untuk  menghirup  tehnya.  Kejadian
        yang ia ceritakan boleh jadi tujuh belas tahun silam, tapi ia mengisahkannya dengan energi
        dan  intensitas  seolah  kejadian  itu  terjadi  kemarin.  Aku  ikut  menyambar  cangkirku.

        Berharap teh Earl Grey ini bisa membantuku mencerna ceritanya barusan.

          “Saya  berusaha  merasionalisasikan  pengalaman  saya,  Zarah.  Saya  bukan  orang  yang
        religius,  saya  nggak  punya  kepekaan  indra  keenam,  saya  nggak  tahu-menahu  tentang
        UFO. Saya ini benar-benar orang biasa. Ya, sudah, saya ke psikiater. Katanya, saya itu
                        1
        somnambulis .  Lha,  kok,  seumur  hidup  saya  ini  tidurnya  kayak  kebo,  nggak  pernah
        melindur, tahu-tahu langsung didiagnosis somnambulis? Saya ke psikiater lain, eh, malah
        diresepkan obat antidepresan. Untuk apa? Saya tahu saya nggak gila, kok. Saya rontgen
        kepala,  nggak  ditemukan  apa-apa.  Jadi,  sulit  sekali  saya  menerima  apa  yang  terjadi,”
        ujarnya. “Sejak hari itu, saya dihantui satu pertanyaan: kenapa harus saya?”


          Sejak hari itu juga, Pak Simon tidak lagi merasa tenang. Dunianya berubah dalam satu
        malam.  Ia  seperti  ditendang  keluar  dari  zona  nyamannya.  “Saya  jadi  nggak  kerasan  di
        kantor,”  katanya.  “Saya  malah  keliling-keliling  cari  informasi.  Tanya-tanya  orang,
        mengubrak-abrik perpustakaan, pesan buku dan majalah UFO dari luar negeri. Saya cuma
        kepingin tahu apa yang sebenarnya terjadi pada saya malam itu.”

          Akhirnya,  Pak  Simon  bertemu  dengan  komunitas  UFO  di  Jakarta.  Komunitas  yang
        ternyata punya anggota di berbagai tempat di Indonesia itu adalah kumpulan orang-orang

        senasib, yang entah dipersatukan oleh minat, pengalaman melihat UFO, atau kombinasi
        keduanya. Pak Simon langsung bergabung. Ia menjadi anggota aktif yang datang ke setiap
        pertemuan. Ujung-ujungnya, malah ia yang sering berinisiatif membuat pertemuan. “Jelas
        saya senang,” Pak Simon tersenyum, “akhirnya bisa ketemu orang-orang yang mengerti.
        Sayangnya, di komunitas kami saat itu, baru saya yang mengalami ‘penculikan’. Lama-
        lama, saya nggak puas. Saya harus cari tahu dari sumber lain.”

          Aku teringat Ayah. Bagaimana ia teralienasi karena terperangkap dalam dunia yang ia

        mengerti sendiri. “Tanggapan keluarga Bapak gimana?” tanyaku.

          “Menertawai, itu sudah pasti. Dianggapnya saya kurang kerjaan. Mimpi, kok, diseriusi.
        Mereka bilang, paling saya digoda jin. Konsultasi ke orang pintar sebentar, dijampi-jampi
        sedikit,  pasti  beres,”  ia  terkekeh  sendiri.  “Tapi,  intuisi  saya  mengatakan  apa  yang  saya
        alami lebih dari itu. Bukan semata-mata urusan klenik.”

          Untungnya, dengan posisi sebagai yang tertua dan paling berkuasa di keluarganya, Pak
        Simon  bisa  melanglang  buana  demi  menuntaskan  rasa  ingin  tahunya  tanpa  ada  yang
        berani protes. Ia memiliki segala fasilitas dan kemampuan untuk pergi ke mana pun ia

        mau.  Bagai  kutu  loncat,  Pak  Simon  pindah  dari  satu  negara  ke  negara  lain,  menjalin
        jaringan  perkenalan  dengan  banyak  orang  kompeten.  Sekaligus  bertubrukan  dengan
        banyak hal yang tidak ia antisipasi.

          “Semakin dalam saya mencari, semakin banyak informasi dan bidang-bidang lain yang
        terkait. Ternyata, UFO itu cuma puncak gunung es, Zarah,” ujarnya, “cuma satu simpul di
   199   200   201   202   203   204   205   206   207   208   209