Page 202 - Supernova 4, Partikel
P. 202

ke kamar.

          “Bapak tinggal sendiri?” tanyaku.

          “Hampir selalu,” jawabnya. “Kadang-kadang saja saya kedatangan tamu. Seperti kamu
        sekarang.”

          Ditemani  teh  Earl  Grey  panas  dan  senampan  kue  kering,  meluncurlah  cerita
        terdamparnya Simon Hardiman di dataran Inggris.

          Datang dari generasi panjang keluarga saudagar, bisnis utama Pak Simon bergerak di

        kapal tanker yang kemudian beranak pinak menjadi aneka bidang bisnis, termasuk energi,
        pertambangan, rumah sakit, dan seterusnya.

          Usia Pak Simon kini 65 tahun, tapi ia telah pensiun dari perusahaannya sejak tujuh belas
        tahun lalu. Ia memutuskan untuk nonaktif dari dunia korporat, membiarkan anak-anak dan
        saudaranya  mengambil  alih,  sementara  ia  hanya  mengendalikan  dari  jauh.  Pak  Simon
        pergi bertualang keliling dunia. Setelah dua tahun berkelana menikmati masa pensiunnya,
        ia  memutuskan  pindah  ke  Glastonbury.  Pak  Simon  lantas  membeli  Weston  Palace,

        bangunan  empat  lantai  dengan  sedikitnya  dua  puluh  kamar  tidur  yang  berdiri  di  lahan
        seluas  tiga  hektare,  lengkap  dengan  taman  bunga  dan  hutan  mungilnya.  Ia  tinggal
        sendirian tanpa keluarga. Sebagai ganti, Pak Simon dikawal oleh lima pelayan, dua koki,
        empat tukang kebun, dan seorang sopir.

          “Kejadian  yang  membuat  saya  pensiun  dini  adalah  hal  yang  menghubungkan  saya
        dengan ayahmu,” katanya.

          Ini dia yang kutunggu-tunggu. Badanku menegang.

          Di cangkir kami yang kedua, mengalirlah cerita yang tak kusangka-sangka. Cerita yang

        lebih surealistis lagi dari kastel dongeng yang sekarang kupijak.

                                                                                                               5.

        Pada  suatu  malam,  tujuh  belas  tahun  lalu,  Pak  Simon  menjalani  harinya  seperti  biasa.
        Sejak lama, Pak Simon sudah terbiasa hidup sendiri. Ia bercerai dari istrinya dan tidak
        menikah lagi. Aktivitas pekerjaannya yang padat menjadi pengisi hari-harinya. Di luar itu,
        Pak Simon punya satu minat lain yang ia jalani diam-diam. Melukis.

          Bekerja seharian lalu mencuri-curi waktu untuk melukis kala malam adalah hiburannya.
        Malam itu, ia menyelesaikan satu lukisannya yang terbengkalai.

          “Saya  mungkin  akan  berkesimpulan  lain  kalau  waktu  itu  saya  lagi  tidur.  Tapi,  saya

        sedang  terjaga,  Zarah,”  ungkap  Pak  Simon.  “Orang-orang  bilang,  yang  saya  alami  itu
        cuma  lucid  dreaming,  kondisi  mimpi  yang  sering  susah  dibedakan  dengan  kenyataan.
        Omong kosong. Saya ingat jelas. Saya lagi duduk melukis ketika kejadian….”

          Saat sedang tekun menorehkan kuas, tiba-tiba kanvas yang dihadapinya seperti bergetar.
        Bukan getaran macam gempa, melainkan lebih seperti vibrasi visual. Seumpama gambar
        televisi yang tahu-tahu antenanya goyang. Ia lantas mendengar dengingan nada tinggi di
        kupingnya.  Memekakkan.  Dengingan  itu  seolah  menembus  dari  kupingnya  hingga  ke

        puncak  kepala.  Pandangannya  mendadak  berubah  menjadi  putih  menyilaukan,  dan  ia
   197   198   199   200   201   202   203   204   205   206   207