Page 206 - Supernova 4, Partikel
P. 206

“Apa sebenarnya isi surat itu, Pak?”

          “Proposal riset. Penelitian intensif dan terukur untuk menjelajah planet lain, perjalanan
        ke ‘luar’ menggunakan jalur ke ‘dalam’. Memakai enteogen. Dalam proposal ayahmu, ia
        merujuk spesifik pada jamur.”

          “Psilocybe? Amanita muscaria?” aku langsung menebak.

          “Betul.”

          “Apa hubungannya jamur dengan planet lain?”

          “Logika yang umum adalah kalau kita mau cari makhluk angkasa luar, kita harus punya

        pesawat  dan  teknologi  yang  cukup,  betul?  Sementara,  secara  fisik  manusia  baru  bisa
        sampai  ke  bulan.  Kapan  mau  sampai?  Nah,  Firas  berargumen,  penjelajahan  yang  sama
        bisa  dilakukan  tanpa  teknologi  pesawat.  Tubuh  manusia  mampu  melakukannya.  Dan,
        Bumi ini sudah menyediakan enteogen sebagai fasilitasnya. ‘Pesawat’ itu diracik di dalam
        molekul  tubuh  manusia.  Jadi,  bukan  perjalanan  ke  luar.  Melainkan  ke  dalam.  Untuk
        mencapai tujuan yang sama.”

          Kepalaku terasa pening. “Tapi—mana mungkin, Pak?”


          “Ayahmu, seperti juga aku, percaya bahwa semesta ini bersifat hologram. Artinya, setiap
        titik adalah proyeksi dari keseluruhan semesta secara utuh. Sama dengan tubuhmu. Kamu
        berangkat  dari  satu  sel  hingga  jadi  triliunan  sel.  Setiap  sel  tubuhmu  mengekspresikan
        Zarah  secara  utuh.  Kalau  tidak,  metode  kloning  tidak  mungkin  bisa  dilakukan.  Kalau
        semesta  ini  merupakan  satu  tubuh,  kamu  adalah  bagian  inheren  darinya,  Zarah.  Kita
        berada dalam satu jaringan inteligensi kosmos. Mengapa tidak mungkin inteligensi yang
        sama  menghubungkanmu  dengan  makhluk  lain  di  semesta  ini?  Kalau  tubuh  kita

        ‘mengandung’ semesta secara utuh, mengapa kita terus mengandalkan eksplorasi ke luar,
        dan malah mengabaikan gerbang yang ada di dalam?” balas Pak Simon.

          “Dalam  suratnya,  ayahmu  bilang,  dirinya  sudah  mengalami  langsung  perjalanan
        antardimensi. Ia juga sudah menjalin komunikasi dengan makhluk-makhluk ET. Di situlah
        surat ayahmu menarik perhatian saya. Akhirnya, saya bertemu teman senasib,” kata Pak
        Simon lagi.

          Ia  lanjut  bercerita.  Ayah  dan  Pak  Simon  berkorespondensi  berbulan-bulan.  Kadang-

        kadang mereka bicara di telepon. Pak Simon bahkan menawari Ayah terbang menyusul ke
        Inggris,  meneruskan  eksperimennya  di  sana.  Ayah  belum  mengiyakan  karena  merasa
        belum siap meninggalkan urusannya di Indonesia. Dari cerita Pak Simon, aku menaksir
        bahwa itu bertepatan dengan masa sulit kami setelah wafatnya Adek.

          “Ayah sering bilang tentang dimensi lain, portal, Jamur Guru. Pak Simon tahu soal itu?”
        tanyaku.

          “Kepada  saya,  Firas  pernah  memberitahukan,  dia  punya  laboratorium  hidup.  Sebuah
        bukit dengan hutan primer yang tidak tersentuh ribuan tahun, di dekat tempatnya tinggal.

        Firas  menduga,  kualitas  enteogen  sangat  ditentukan  oleh  tempat  tumbuhnya.  Semakin
        murni dan bersih alamnya, semakin dahsyat. Dia bilang, hutan di bukit itu benar-benar
        spesial. Bukan cuma bersih, vibrasinya juga luar biasa. Firas juga sempat bercerita bahwa
   201   202   203   204   205   206   207   208   209   210   211