Page 229 - Supernova 4, Partikel
P. 229

Pak Simon.

          “Keluarga saya.”




        Aku  menumpang  bertelepon  di  perpustakaan  Pak  Simon.  Ponselku  sengaja  kumatikan
        sejak kumulai ritual Iboga. Baru kunyalakan lagi pagi ini.


          Ada dua pilihan. Menghubungi rumah Pak Ridwan atau nomor ponsel Hara. Intuisiku
        memilih yang kedua.

          Setelah  terdengar  nada  sambung  beberapa  kali,  kudengar  suara  adikku  menyapa
        assalamualaikum.

          “Waalaikumsalam, Hara. Apa kabar?”

          “Kakak? Ini benar Kakak?” Suara Hara langsung meninggi. Parau.

          “Iya, Hara. Ini Kak Zarah.”

          Di  ujung  sana,  Hara  malah  terisak-isak.  “Hara  baru  saja  mau  telepon  Kak  Zarah,”
        tangisnya.

          “Kamu kenapa?”

          “Kakak lagi di London?”

          “Kakak lagi di kota lain. Glastonbury. Ada apa?”


          “Abah, Kak.”
          Cukup sampai di situ. Sisa penjelasan Hara seolah bergaung di ruang lain.


          Di ruang lain itu, kudengar Hara memberitahukan bahwa Abah kena serangan jantung,
        siang tadi waktu setempat. Ia jatuh di kamar tidur sehabis berpakaian, dalam persiapannya
        mengantar Umi ke sebuah acara. Beliau dilarikan ke rumah sakit. Kurang dari tiga jam
        Abah  bertahan.  Sore  hari,  yang  bertepatan  dengan  pagi  hari  di  tempatku,  ia  meninggal
        dengan tenang. Ditemani Umi, Ibu, dan Hara. Hara bilang, Abah seperti tertidur. Sekilas
        senyum  menghiasi  wajahnya  yang  baru  bercukur.  Abah  berbaring  resik  dalam  baju

        kesayangannya. Setelan koko putih dengan bordir biru muda di bagian dada.

          Dalam  ruang  satunya  lagi,  aku  diam  mendekap  kenangan  terakhirku  bersama  Abah.
        Bukan  saat  aku  dihantam  mencium  ubin,  bukan  ketika  ia  menggelegarkan  kepada  seisi
        rumah bahwa aku bukan cucunya lagi. Bukan itu semua. Kenangan terakhirku adalah saat
        kami berpelukan pagi tadi. Hatiku dan hatinya.

                                                                                                             12.

        “Semua baik-baik saja?” tanya Pak Simon begitu aku kembali ke kamar.

          “Iya dan tidak,” aku menjawab dengan senyum.

          “Akan  sangat  membantu  kalau  kamu  bicara  tentang  pengalaman  Iboga-mu.  Apa  pun
        yang terjadi harus kita integrasi bersama. Tapi, jika tidak sekarang, juga tidak apa-apa.

        Kita masih punya cukup waktu,” ujar Hawkeye.
   224   225   226   227   228   229   230   231   232   233   234