Page 231 - Supernova 4, Partikel
P. 231

Pak Simon.

          “Saya  bahkan  nggak  tahu  rumah  pertama  saya  yang  mana,  Pak,”  balasku  sambil
        tersenyum kecil, dan aku menduga Pak Simon dapat menangkap kegetiran dalam suaraku.

          “Kalau suatu saat, tempat ini mau kamu anggap rumah pertama sekalipun, silakan,” Pak
        Simon tersenyum. “Kamu sudah saya anggap keluarga sendiri.”

          Ternyata, itulah persamaanku dengan Pak Simon. Misi yang telah kami tetapkan masing-
        masing akhirnya mengalienasi kami dari sanak saudara, memaksa kami untuk mencari dan

        menciptakan rumah sendiri. Misi itulah yang kemudian menjadi pertalian antara kami, dua
        manusia tak sedarah.

          “Kita akan bertemu lagi, Zarah. Saya yakin itu,” ucap Hawkeye.

          “Of course,” jawabku sambil mengusap air mata. “Saya baru pakai tiga hari dari jatah
        seminggu saya, kan?”

          “Next time, we will have all the time we need.” Hawkeye merangkulku.




        Sebelum  pulang,  Pak  Simon  membekaliku  sesuatu.  Benda-benda  yang  teramat  penting.

        Jurnal-jurnal Ayah yang sudah ia fotokopi satu set. Terjilid rapi.

          Ia lalu melepaskan sebuah benda lagi. Benda yang selama ini kulihat menggantung di
        lehernya. Benang lima warna—biru, hijau, kuning, putih, dan merah—dianyam menjadi
        seuntai kalung.

          “Saya ingin kasih kamu ini,” ia mengacungkan benda itu di depan mukaku.

          “Apa ini sebetulnya, Pak?”

          “Ada yang belum saya ceritakan kepadamu,” Pak Simon menggeser kursi, menyuruhku
        duduk.  “Setahun  setelah  makhluk  ET  mengoperasi  kepala  saya,  ada  perubahan  fisik

        terjadi.  Saya  sering  pusing,  migrain,  kalau  kambuh  sakitnya  bukan  main.  Padahal,
        sebelumnya tidak. Saya ke dokter. Saya diperiksa, di-scan, dan ternyata ada tumor di otak
        saya.”

          “Ganas? Bapak apa nggak curiga? Bisa jadi tumor itu efek dari operasi ET,” rentetku.

          “Mungkin,” Pak Simon mengangkat bahu. “Saya nggak pernah tahu karena saya nggak
        meneruskan pengobatan. Saya nggak mau buang waktu di rumah sakit. Saya pikir, kalau
        saya harus mati, ya, matilah. Lebih baik meneruskan petualangan, mumpung masih ada
        umur. Saya malah pergi ke Tibet.


          “Saya  pernah  dengar  tentang  satu  kitab  Tibet,  namanya  Bardo  Thodol,  atau  Kitab
        Kematian.  Kitab  itu  menerangkan  tahap-tahap  kematian  yang  akan  dijalani  seseorang.
        Bagi  saya,  itu  lebih  berguna  daripada  operasi.  Waktu  itu,  saya  sudah  siap  mati,  Zarah.
        Setengah  tahun  saya  di  Lhasa.  Saya  pergi  ke  pusat  pengobatan  di  sana,  kemudian  jadi
        getsul di satu kuil. Saya belajar meditasi. Saya yakin, berlatih meditasi akan membantu
        saya untuk menghadapi alam Bardo.”
   226   227   228   229   230   231   232   233   234   235   236