Page 234 - Supernova 4, Partikel
P. 234

KEPING 41


                                               Jurnal Terakhir



                                                         2 0 0 3


                                                        London





        I NILAH transitnya tersingkat di London.

          Setelah dua hari berada di alam enteogen yang membuat badannya terkapar tak berdaya,
        pada  hari  yang  ketiga  fisiknya  segar  luar  biasa.  Seakan  segenap  selnya  diperbarui
        sekaligus  dan  tubuhnya  bangkit  menjadi  Zarah  Amala  yang  serupa  tapi  tak  sama.
        Sembilan hari di Glastonbury terasa bagai mimpi panjang. Dari sana, Zarah keluar sebagai
        manusia baru. Lahir batin.

          Tiket  pulangnya  ke  Jakarta  sudah  diurus  Pak  Simon  dari  Glastonbury.  Ia  bahkan  tak

        sempat bertemu dengan Paul dan Zach. Kedua orang itu sedang tidak ada di tempat saat ia
        pulang ke rumah teras mereka di Clapham. Tapi, ia memang tidak punya banyak waktu
        untuk  bercerita  kepada  mereka.  Zarah  cuma  sempat  membongkar  ranselnya,  membawa
        tambahan  baju,  memuatnya  kembali  dalam  ransel  yang  lebih  besar.  Berangkat  ke
        Heathrow.

          Di ruang tunggu, Zarah menekan speed dial pertama. Zach. Ponselnya tidak aktif. Zach
        mungkin lagi asyik memotret gelondongan sampah, pikirnya. Nomor kedua ia tekan. Paul.

        Entah mengapa, jantungnya berdebar lebih kencang.

          “Missy?” Suara Paul menyapanya.

          “Cro-Mag, I’m back.”

          “How  was  Glastonbury?  Did  you  find  him?  Did  you  find  any  clue?”  Paul  langsung
        memberondong.

          “Saya berhasil menemukan Simon Hardiman. And more. Tapi, saya belum bisa cerita
        sekarang. Saya harus boarding.”

          “Ke mana kamu?”

          “Indonesia.”

          “Kamu pulang?” ulang Paul tak percaya. “For real?”

          “Kakekku meninggal. I need to be there.”

          Hening sebentar di ujung sana. “Very sorry to hear that,” dengan suara rendah, Paul

        berkata.

          “Thank you,” balas Zarah tenang, “he’s in a happy place, Paul. I’m sure about it.”

          “Kamu bakal kembali ke Inggris, kan?”
   229   230   231   232   233   234   235   236   237   238   239