Page 232 - Supernova 4, Partikel
P. 232

“Apa itu alam Bardo?”

          “Alam  Bardo  adalah  alam  transisi.  Ketika  kita  mati,  kesadaran  kita  akan  memasuki
        tahapan-tahapan alam Bardo. Alam itu sebetulnya bisa dicapai tanpa kematian. Ada jalan
        lain. Enteogen, atau lewat meditasi. Di Tibet, saya belajar jalur yang kedua. Perubahan
        besar terjadi setelahnya. Saya jadi sadar, kematian dan kehidupan sesungguhnya satu dan
        tidak  terpisahkan.  Mempelajari  Kitab  Kematian  akhirnya  membuat  saya  belajar  untuk

        hidup.”

          “Seperti apa alam Bardo itu, Pak?” desakku penasaran.

          Pak Simon menepuk lututku, “Kamu harus mengalaminya sendiri. Kata-kata saya nggak
        akan  berguna.  Lagi  pula,  saya  yakin,  sebagian  dari  alam  itu  sudah  kamu  cicipi  lewat
        Iboga.”  ia  lalu  menyerahkan  kalung  benang  itu  ke  tanganku.  “Anyaman  benang  ini
        berguna sebagai pelindung. Tidak semua entitas di dimensi lain sepenuhnya berniat baik,
        Zarah.”

          “Ini?”  tanyaku  sekali  lagi.  Memastikan  bahwa  yang  dimaksud  Pak  Simon  sebagai

        pelindung  adalah  seutas  mungil  benang  warna-warni  ini.  Setelah  dari  dekat  baru  aku
        melihat bahwa di tengah untaiannya, benang itu melilit segulung kertas kecil biru tua.

          “Dalam kertas itu, ada mantra Dorje Gotrab. Ditulis dengan tinta emas. Itulah mantra
        terkuat dalam ajaran Tibet, melindungimu dari apa pun, termasuk alien.”

          Aku menerimanya dengan ekspresi campur aduk.

          “Kedengarannya  aneh,  kan?”  Pak  Simon  tersenyum.  “Tapi,  tidakkah  itu  membuatmu
        curiga, bagaimana tradisi Tibet yang sudah ada ribuan tahun bisa mengantisipasi makhluk
        seperti alien? Berarti, jangan-jangan, sejak peradaban manusia ada, makhluk seperti alien

        sudah bersama-sama dengan kita.”

          “Boleh saya tanya tentang tongkat Bapak?”

          Pak  Simon  terkekeh.  “Pasti  kamu  mau  tanya,  kenapa  saya,  kok,  jalan  selalu  pakai
        tongkat,  padahal  kaki  saya  baik-baik  saja.  Ya,  toh?”  ia  mengetukkan  tongkatnya,  lalu
        menunjuk puncaknya yang hitam mengilap, “Ini obsidian, Zarah. Pengguna kristal tahu
        bahwa obsidian memang dikenal sebagai pelindung supranatural yang ampuh. Tapi, yang
        satu ini spesial. Di Aztec, obsidian dipercaya sebagai perwujudan dari Dewa Batu yang

        disebut Itzli. Itzli sendiri adalah bagian dari Tezcatlipoca, Spirit Kegelapan.”

          Pak Simon cepat menambahkan, “Kegelapan tidak selalu mengerikan. Tidak ada terang
        tanpa  gelap.  Keduanya  harus  terus  berkolaborasi  supaya  kehidupan  ini  berjalan.  Sama
        seperti mitos Aztec yang percaya bahwa Quetzalcoatl—figur pencipta yang dikonotasikan
        dengan  cinta,  terang,  dan  segala  yang  baik-baik—bekerja  sama  dengan  Tezcatlipoca
        menciptakan dunia ini. Tezcatlipoca pada intinya adalah simbol perubahan.

          “Saya dapat batu ini dari seorang syaman Aztec. Ini adalah salah satu obsidian tertua
        yang pernah ditemukan di sana. Saya beruntung,” lanjut Pak Simon sambil mengelus-elus

        bongkahan  kaca  vulkanik  hitam  yang  membulat  licin  itu.  “Saya  pasangkan  di  tongkat
        karena  kalau  jadi  kalung  terlalu  berat.”  Ia  terkekeh  lagi.  “Saya  memakainya  ke  mana-
        mana karena batu ini menyeimbangkan saya, Zarah. Merangkul kegelapan sebagai bagian
   227   228   229   230   231   232   233   234   235   236   237