Page 233 - Supernova 4, Partikel
P. 233

hakiki hidup ini.”

          “Spirit Iboga yang saya lihat, matanya hitam gelap. Obsidian adalah hal pertama yang
        langsung saya ingat ketika melihat matanya. Mungkinkah ada hubungannya? Iboga, spirit
        yang  menjaga  alam  kematian,  dengan  makna  obsidian  di  Aztec—”  Aku  geleng-geleng
        kepala sendiri, meredam spekulasi yang menurutku sudah terlampau jauh.

          Pak Simon malah mengentakkan tongkatnya dengan semangat. “Tentu saja! Mengapa

        tidak?  Jangan  kecil  hati,  Zarah.  Kita  tidak  bisa  memakai  keterbatasan  logika  untuk
        memahami  kompleksnya  dimensi  lain.  Kalau  logikamu  tidak  sanggup  mengikuti,  tapi
        intuisimu  merasakan  sesuatu,  bukan  berarti  kita  pasti  salah,  kan?  Buat  saya,  segalanya
        mungkin.”

          Simon Hardiman adalah manusia terkaya yang pernah kutemui. Kaya dalam segala arti.
        Bukan  hanya  karena  ia  memiliki  properti  mahal  di  Inggris  dan  bisnis  konglomerasi  di
        Indonesia. Ia kaya karena keterbukaannya menerima berbagai sisi tanpa gentar.

          “Bapak pernah coba scan tumor itu lagi?”


          “Hilang tanpa bekas.” Pak Simon tertawa. “Tapi, bukan berarti dia nggak bisa balik lagi,
        kan? Bedanya, sekarang saya nggak takut lagi. Persepsi saya jadi berubah. Saya melihat
        tumor itu semacam pemicu untuk saya mencari lebih dalam, mempertemukan saya dengan
        lebih banyak pengetahuan, membuka mata saya bahwa penyakit bukan sekadar gangguan.
        Melainkan kode. Kode dari tubuh bahwa ada hal dalam hidup kita yang harus dibereskan.”

          “Sekarang  saya  percaya  itu.  Karena  Iboga,  persepsi  saya  tentang  kematian  rasanya
        berubah. Tidak lagi menakutkan.” Aku ikut tersenyum.

          “Kematian adalah gerbang petualangan baru,” sahutnya ringan. “Hidup bukan terbatas

        yang  kita  alami  sekarang  ini  saja.  Ini  hanya  sekelumit  dari  berbagai  bentuk  kehidupan
        lain.”

          Setelah  melewati  apa  yang  kulalui  bersama  Iboga,  aku  harus  mengakui  bahwa  aku
        sepakat dengan Pak Simon.

          “Petualangan kita belum selesai,” ucap Pak Simon sambil menjabat tanganku.

          “Sama sekali belum.” Aku membalas jabatannya.






        1Somnambulis/somnambulisme: Salah satu kelainan tidur parasomnia yang membuat orang yang bersangkutan mampu
         melakukan aktivitas fisik sebagaimana biasa dilakukan dalam keadaan terjaga tanpa sepenuhnya disadari atau tidak
         disadari sama sekali.
        2Bangunan yang dibuat dengan metode penyusunan batu-batu masif dengan ukuran dan bentuk yang acak (interlocking).

        3American Standard Code for Information Interchange.
   228   229   230   231   232   233   234   235   236   237   238