Page 41 - Supernova 4, Partikel
P. 41

“Mereka? Siapa?”

          Kembali hanya suara cericit kayuhan sepeda yang terdengar. Lama sekali.

          “Dimensi  lain.”  Nada  itu  ketus,  memberiku  pertanda  agar  berhenti  mengganggunya
        dengan pertanyaan-pertanyaanku.

          Aku tidak kapok. “Apa itu ‘dimensi lain’?”

          Ayah  tak  langsung  menjawab.  Kepalanya  berputar  melihat  sekeliling  lalu  berkata,
        “Dunia lain. Kehidupan lain. Mirip begini, tapi nggak sama.”

          “Mirip bagaimana?”


          “Mirip, artinya ada makhluk hidup, ada keluarga, ada pekerjaan, ada kehidupan. Tapi,
        nggak sama.”

          “Apanya yang nggak sama?” Tak surut kuteror Ayah dengan rentetan pertanyaan.

          “Sulit kuceritakan, Zarah. Kamu harus melihatnya sendiri.”

          “Kenapa di atas sana sesak banget udaranya, Yah?”

          Terdengar Ayah menghela napas. “Banyak yang belum Ayah ceritakan kepadamu. Tapi,
        sekarang  bukan  saatnya.  Sabar,  Zarah.  Semua  pertanyaan  selalu  berpasangan  dengan
        jawaban. Untuk keduanya bertemu, yang dibutuhkan cuma waktu.”

          Dari  semua  titah  dewa  yang  keluar  dari  mulut  Ayah,  itulah  satu  kalimat  yang  paling
        kuingat.  Sepanjang  hidupnya,  Ayah  meninggalkan  begitu  banyak  pertanyaan.

        Kepadakulah, ia mewariskan pencarian jawaban yang tak henti-henti. Aku tak tahu apakah
        harus bersyukur atau mengutuk warisannya itu.

          Perjalanan  ke  puncak  Bukit  Jambul  adalah  ujian  terbesar  dari  Ayah  di  sepanjang  dua
        belas tahun hidupku. Dan perasaanku mengatakan, itu hanyalah awal dari rangkaian ujian
        yang lebih besar.

                                                                                                               8.

        Aku semakin yakin Ayah memang sengaja menungguku siap dan teruji terlebih dulu untuk
        layak  menerima  informasi  yang  akan  disampaikannya.  Sejak  ujian  di  Bukit  Jambul,  ia

        mulai tergerak membuka petualangan rahasianya kepadaku.

          Pagi itu, ia mengajakku masuk ke ruang kerjanya. Satu-satunya ruang yang tidak pernah
        tersentuh oleh Ibu dan keapikannya yang super. Ruang kerja Ayah seperti tempat sampah
        kertas dalam skala besar. Untuk bisa mencapai meja kerjanya, aku harus berjingkat-jingkat
        melewati kertas dan buku yang berserakan di lantai.

          Di kursi kerjanya, ia mendudukkanku.

          “Tidak ada setan di Bukit Jambul,” katanya tiba-tiba.

          Aku tersentak. Ini kejutan besar.

          “Ayah sudah masuk ke Bukit Jambul sejak Ayah masih delapan belas tahun. Di sana

        Ayah menemukan harta terbesar yang barangkali tidak akan ditemukan di tempat lain di
   36   37   38   39   40   41   42   43   44   45   46