Page 60 - Supernova 4, Partikel
P. 60

Kosoluchukwu tersenyum lebar, “Koso is good.”

          Dengan  bahasa  Inggris  ala  kadar  dicampur  bahasa  isyarat  ala  Tarzan,  kami  pun
        berkomunikasi  walau  sebenarnya  aku  tidak  keberatan  mendengarkan  Koso  mengoceh
        dalam bahasanya sendiri yang merdu seperti talu-taluan genderang.

          Segala  sesuatu  tentangnya  terasa  ritmis.  Bahkan  ketika  bicara,  badan  Koso  bergerak
        harmonis seperti orang menari. Tangannya bergerak ekspresif, lehernya membuat gerakan

        mundur-maju, kiri-kanan, yang kesemuanya itu membuatku terhipnotis.

          Koso dianugerahi kemampuan fisik yang membuat kami sesak napas karena tak sanggup
        mengikuti.  Ia  lari  dan  melejit  seindah  kijang.  Tarikan  otot-ototnya  yang  membentuk
        sempurna ketika mengejang menahan semua mata berkedip. Lompatannya ketika menolak
        bola voli atau mengegolkan bola basket begitu mulus, tanpa usaha bak bajing loncat yang
        melompat dari satu pohon ke pohon lain. Terkadang aku curiga ia bisa terbang betulan.

          Berjalan di sebelah Koso membuatku merasa ada yang memayungi. Reputasiku sebagai
        anak  termuda,  agak  gila,  dan  penyembah  berhala,  tidak  lagi  menjadi  ancaman  selama

        Koso ada di sisiku. Koso disegani karena kemampuan olahraganya yang cemerlang, yang
        secara langsung artinya adalah fisik yang tangguh. Tidak ada yang berani macam-macam
        dengan  Koso.  Sementara  itu,  aku  disegani  karena  disinyalir  komunis.  Kami  adalah
        kombinasi sempurna.

          Agar komunikasi di antara kami semakin lancar, aku dan Koso janjian kursus bahasa
        Inggris bersama. Ibu menyambut baik permohonanku ikut kursus. Ia melihatnya sebagai
        kemajuan positif pascapesantren.


          “Zarah sekarang jadi rajin. Dia sendiri yang inisiatif minta les bahasa Inggris,” lapor Ibu
        kepada  Abah.  Meski  diucapkan  dengan  sayup,  terdengar  jelas  ada  nada  bangga  dalam
        suara Ibu.

          “Bagaimana dengan mengaji? Sudah mau dia?” tanya Abah.

          Aku  pura-pura  tak  mendengar.  Menenggelamkan  kepalaku  dalam  buku  cerita.  Sudut
        mataku curi-curi mengamati mereka.

          Ibu menggeleng. “Pelan-pelan, Bah. Ini juga sudah lumayan.”

          “Kamu terlalu lembek sama anak, Aisyah. Kalau Abah jadi kamu, sudah kuseret paksa si
        Zarah dari dulu. Minimal, ancam dia. Jangan kita yang menuruti maunya terus.”


          “Seperti dulu Abah mengancam dan menyiksa Firas supaya nggak menginjakkan kaki ke
        tempat terkutuk itu?” Ibu menyindir tajam. Abah terdiam.

          Untuk sementara, persahabatanku dengan Koso berjalan tak terganggu. Kursus bahasa
        Inggris seminggu dua kali menjadi dua hari yang paling kunanti. Aku belajar dengan giat.
        Sejenak aku melupakan jurnal-jurnal Ayah. Sebagai ganti, aku membaca kamus bahasa
        Inggris setiap malam. Mempelajari kata baru menjadi semacam permainan mengasyikkan
        untukku.

          “You’re very smart, Zarah,” Koso berkata setelah melihat hasil ujian Bahasa Inggrisku

        yang  sempurna.  “Kamu  pintar  sekali,”  ulangnya  dalam  bahasa  Indonesia.  “I  wish  I’m
   55   56   57   58   59   60   61   62   63   64   65