Page 62 - Supernova 4, Partikel
P. 62

mengira  aku  berusaha  menyontek.  Dalam  hati  aku  marah-marah,  yang  benar  saja  aku
        menyontek?  Kalaupun  iya,  orang  yang  kusontek  tidak  mungkin  Koso.  Sudah  bukan
        rahasia lagi prestasi buruk Koso dalam pelajaran. Dan, sudah bukan rahasia lagi, reputasi
        burukku di mata guru-guru. Aku ditegur pasti karena faktor sentimen.

          Puncak keteganganku adalah pada saat pembagian rapor, sampai-sampai aku berkeringat
        dingin. Aku tak peduli isi raporku. Yang kunanti-nanti adalah kepastian apakah Koso naik

        kelas atau tidak. Melihat betapa parahnya nilai-nilai Koso selama ini, orang waras mana
        pun pasti bisa berkesimpulan Koso tidak mungkin naik kelas.

          Nama Koso dipanggil. Berdua, kami membuka rapornya. Aku membeliak tak percaya.
        Sederet angka enam tertulis dari atas sampai bawah, kecuali satu. Nilai sembilan untuk
        olahraga. Aku memekik kegirangan. Kupeluk Koso erat-erat. Sahabatku lolos naik kelas.

          Tak lama, kulihat ayah Koso keluar dari ruangan Pak Yusuf. Mereka berjabat tangan.
        Aku menduga, kedatangan ayah Koso berhubungan langsung dengan isi rapornya. Aku tak

        ambil pusing. Bisa kembali sebangku dengan Koso tahun depan adalah segalanya bagiku.




        Setelah setahun kami berteman, aku memberanikan diri mengajak Koso main ke rumah.
        Aku  ingin  mengenalkannya  kepada  Hara,  dan  aku  pun  ingin  memperkenalkan  Koso
        kepada Batu Luhur, kepada ladang permakultur peninggalan Ayah.

          Hari itu kami menjadi tontonan orang kampung. Berbondong-bondong mereka datang ke

        ladang,  mengintipi  Koso  yang  tersenyum  ramah,  memampangkan  giginya  yang  seputih
        susu kepada mereka semua. Hara bangga bukan main berada di sebelah Koso. Seringan
        memegang botol kecap, Koso membolak-balik Hara di tangannya, dan adikku itu tertawa-
        tawa girang.

          Bertiga  kami  pulang  ke  rumah  bergandengan  tangan.  Aku  bahagia  bisa  menunjukkan
        duniaku kepada Koso. Berharap hari itu tidak pernah usai.

          Kulihatlah mobil Abah terparkir di depan rumah. Ibu dan kakek-nenekku menyambut
        kami di teras.


          Sama seperti reaksi semua orang saat melihat Koso, Abah dan Umi terperangah melihat
        pemunculan seorang gadis tinggi besar berkulit hitam.

          Sepulangnya Koso, pertanyaan pertama Abah pun meluncur, “Orang mana dia, Zarah?”

          “Nigeria, Bah. Dia teman sebangku Zarah.”

          “Nigeria? Apa agamanya?”

          Nigeria  adalah  negara  dengan  rasio  pemeluk  agama  hampir  setengah-setengah  antara
        Islam dan Kristen. Koso termasuk yang Kristen.

          “Kristen, Bah.”

          “Oh,” Abah menyahut datar. Seketika aku bisa menangkap makna berlapis dalam “oh”
        pendeknya.
   57   58   59   60   61   62   63   64   65   66   67