Page 61 - Supernova 4, Partikel
P. 61

smart like you.”

          “I wish I’m strong like you,” balasku.

          Koso  menunjuk  ke  dadaku,  “You’re  a  strong  person  inside.”  Lalu,  kepalanya
        menggeleng, “But I can never be smart.”

          “You  wait  and  see,”  kataku  sambil  tersenyum,  menutupi  kekhawatiranku.  Mengenal
        Koso beberapa bulan, aku bisa mendeteksi ia mengalami masalah pelajaran yang cukup
        serius.


                                                                                                             13.

        Tadinya  kupikir  permasalahan  Koso  yang  terbesar  adalah  bahasa.  Tepatnya,  bahasa
        Indonesia. Aku salah. Problem Koso lebih dalam daripada itu. Aku mulai mengamati saat
        kami  kursus  bahasa  Inggris.  Koso,  yang  sudah  terbiasa  berkeliling  mengikuti  ayahnya
        pindah-pindah  negara,  menguasai  bahasa  Inggris  jauh  lebih  baik  daripada  aku.  Namun,
        nilaiku di tempat kursus selalu jauh di atasnya.

          Nilai Koso hanya hancur-hancuran  begitu  ujian  tertulis.  Sementara  itu,  ujian  lisannya
        selalu bagus. Di sekolah, Koso tak punya peluang sama sekali. Semua ujian di sekolah

        tidak ada yang lisan.

          Tiap membaca buku atau soal, Koso kerap mentok di satu halaman yang sama. Lama
        sekali. Ia lancar berkata-kata, tapi persis orang buta huruf ketika disuruh membaca.

          Kalau  pilihan  berganda,  Koso  masih  bisa  menebak-nebak  jawaban.  Begitu  memasuki
        soal  esai,  Koso  mati  kutu.  Kadang  kertas  ujiannya  dibiarkan  kosong.  Koso  sering
        meninggalkan kelas dengan mata berkaca-kaca.

          Koso melampiaskan rasa frustrasinya di lapangan olahraga. Ia melejit, meloncat, berlari,
        mengoper dan mensmes bola dengan kekuatan orang mengamuk. Semua cabang olahraga

        didominasinya. Ia selalu jadi yang terdepan dan terbaik.

          Sekolah  kami  seketika  melihat  potensi  Koso  dan  memanfaatkannya  sebaik  mungkin.
        Koso  ada  di  tim  inti  hampir  semua  cabang  olahraga.  Ia  mirip  maskot  yang  dirangkap
        fungsi menjadi atlet. Andai saja tidak ada batasan gender dalam pertandingan, aku yakin
        Koso  pun  akan  direkrut  oleh  tim  laki-laki.  Kemampuannya  mengalahkan  semua  orang.
        Tak terkecuali.

          Untungnya,  Koso  sama  sekali  tak  keberatan  dieksploitasi  begitu.  Ia  bahkan

        menikmatinya. Seolah ia membalas segala keterbelakangannya di kelas dengan menjadi
        primadona tim olahraga.

          Aku  hadir  di  setiap  pertandingan.  Berteriak  dan  bersorak  paling  keras.  Bukan  karena
        membela almamater. Aku hadir demi Koso seorang. Aku ingin menyemangatinya agar ia
        tahu ada kepintaran lain di luar soal-soal ujian, dan bagaimana Koso menguasai koordinasi
        tubuhnya adalah kepintaran yang tak bisa ditandingi kami semua.

          Tak urung, saat ujian kenaikan kelas akulah orang yang paling stres. Bolak-balik aku
        mengecek Koso, sekadar mengamati air mukanya, dan melihat apakah ia kembali bengong

        atau  mentok  di  satu  halaman.  Berkali-kali  pula  aku  kena  tegur  guru  pengawas  yang
   56   57   58   59   60   61   62   63   64   65   66