Page 92 - Supernova 4, Partikel
P. 92

Misteri hari itu kututup dengan mengajak mereka semua makan-makan di warung bakso
        tenis.

                                                                                                               2.

        Selang dua minggu dari pengumuman, aku bersiap pergi ke Kalimantan. Hadiah wisataku
        itu akan berlangsung empat hari tiga malam.

          Cuti mengajar sudah kuurus. Ranselku sudah siap gendong. Tiket, alamat tujuan, dan
        semua informasi sudah kupegang rapi. Tinggal satu yang belum kulakukan. Pamit kepada

        Ibu. Ini akan menjadi pertemuan pertama kami setelah makan malam ulang tahunku.

          Aku  mendatanginya  sesaat  sebelum  Ibu  berangkat  pengajian.  Atau  ke  masjid.
        Sejujurnya,  kami  tak  tahu  lagi  bedanya.  Yang  bisa  dipastikan  hanyalah  ia  mengenakan
        kerudung  dan  membawa  peralatan  sembahyang.  Menurut  Hara,  Ibu  tiap  sore  pasti
        berangkat untuk kegiatan keagamaan. Entah itu di rumah Bu Hasanah, atau di masjid, atau
        mengajar anak panti asuhan mengaji, atau jadi relawan di pesantren. Kepada Hara, Ibu
        bilang, misinya sekarang adalah hidup  di  dunia  untuk  membangun  hidup  di  akhirat.  Ia

        ingin,  suatu  saat  nanti,  doanya  cukup  layak  untuk  menyelamatkan  orang-orang  yang  ia
        cintai. Aku yakin salah satu orang yang menurutnya patut diselamatkan itu adalah aku.

          “Ibu, Zarah pamit besok berangkat ke Pangkalan Bun.”

          “Jam berapa kamu harus berangkat ke bandara?”

          “Paling lambat 5.00 pagi sudah harus jalan dari Bogor, Bu.”

          “Pakai apa?”

          “Damri.”

          “Kalau  5.00  pagi  sudah  harus  naik  bus,  mau  jam  berapa  kamu  berangkat  dari  Batu
        Luhur?” Dan, sebelum aku menjawab, tahu-tahu Ibu sudah bicara lagi. “Kamu tidur di sini

        saja. Besok Ibu bisa antar ke pangkalan Damri.”
          “Ibu antar Zarah pakai apa? Sepeda?”


          “Ibu akan carikan kendaraan.”

          “Nggak usah, Bu. Merepotkan. Zarah bisa pakai angkot.”

          Ibu menggeleng tegas. “Sekarang, kamu pulang ke Batu Luhur, ambil barangmu. Lalu
        kemari lagi.”

          “Ini  barang  Zarah.  Sudah  semuanya.”  Aku  menepuk  ransel  yang  mencuat  dari
        punggungku.  Berbulan-bulan  menjadi  nomad  telah  berhasil  meringkas  hidupku  hingga
        muat ke dalam satu ransel. Semua yang kubutuhkan ada di situ. Mau Tanjung Puting atau
        Bukit Jambul, sama saja.

          “Ya, sudah. Sepedamu ditinggal  di  sini  saja.  Ibu  nggak  lama,  sebelum  makan  malam

        sudah pulang.” Tanpa menoleh lagi, Ibu pergi mengayuh sepedanya.

          Benar saja. Pukul 19.00, kudengar sepeda Ibu kembali terparkir di garasi. Dan, setengah
        jam kemudian, di atas meja sudah terhidang ikan kembung goreng masak sambal, sayur
   87   88   89   90   91   92   93   94   95   96   97