Page 90 - Supernova 4, Partikel
P. 90

1 9 9 6 – 1 9 9 9


                                                         Bogor





        Suatu hari, Hara menungguku di rumah panggung dengan mata berbinar, menggenggam

        sehelai majalah yang tak kukenal. Tak kubayangkan saat itu, dan pastinya Hara pun tidak,
        bahwa majalah itu akan membawa perubahan besar dalam hidupku.

          “Kak Zarah sudah lihat ini?” tanyanya.

          Sampul  majalah  itu  memajang  remaja  perempuan  berkucir  dua  dengan  baju  warna-
        warni. “Kamu langganan majalah ini?” aku balik bertanya kepada Hara.

          “Teman  Hara  di  sekolah  yang  langganan.  Dia  yang  kasih  tahu  Hara  kalau  ada  nama
        Kakak di sini.” Dan, Hara melanjutkan, “Selamat ya, Kak.”

          Keningku berkerut. Selamat?

          Hara cepat-cepat membuka halaman yang memuat sebuah foto yang kukenal. Fotoku.

        Dua kadal pohon sedang bertarung di darat. Aku membidik tepat ketika kedua kadal itu
        sedang  berpuntir  di  udara  seperti  dua  jagoan  kungfu.  Foto  itu  membuatku  tengkurap
        setengah  jam  nyaris  tak  bergerak  demi  mengintai  mereka.  Itulah  foto  pertamaku  yang
        dipuji Pak Kas, yang membuatnya berkata, “Kamu sudah melampauiku, Zarah.”

          Bagaimana  bisa  foto  itu  tiba-tiba  dimuat  di  majalah?  Aku  terbengong-bengong.
        Terbacalah namaku: Zarah Amala. Juara I.

          “Kok,  bisa?”  bisikku  tak  percaya.  Aku  tak  pernah  mengirimkan  fotoku  kepada  pihak
        mana pun.


          “Ya, jelas bisa, lah, Kak. Memang foto Kak Zarah yang paling bagus,” sahut Hara.
          Rasa bingung tentang asal muasal fotoku bisa ikut kompetisi perlahan tersaingi oleh rasa

        bangga dan bahagia. Fotoku dimuat di majalah. Dilihat dan dinikmati orang banyak. Rasa
        itu begitu intens sampai aku harus mengatur napas.

          “Nanti bawakan aku oleh-oleh dari Kalimantan, ya, Kak.”

          Ucapan  Hara  menyadarkanku  bahwa  ada  hadiah  yang  akan  kuterima.  Lomba  foto
        bertema  lingkungan  itu  menghadiahi  pemenangnya  ekowisata  ke  Tanjung  Puting,
        Kalimantan  Tengah,  untuk  melihat  langsung  konservasi  orangutan.  Kalimantan? Rekor
        terjauhku  bepergian  melihat  Nusantara  ini  adalah  keliling  miniatur  Indonesia di Taman

        Mini. Dan, masih ada hadiah uang tunai dua juta rupiah. Tak pernah kubayangkan bisa
        punya uang sebanyak itu.

          “Ikut Kakak, yuk.” Aku menarik tangan Hara.

          “Ke mana?”

          Aku harus menemui orang yang bertanggung jawab atas semua ini.
   85   86   87   88   89   90   91   92   93   94   95