Page 89 - Supernova 4, Partikel
P. 89

Aku menggeleng.

          “Ya, sudah. Begini saja, besok kamu gantikan Asep nunggu kios, jadi langsung praktik.
        Gimana?”

          Asep menggeleng.

          Pak Kas berpikir sejenak. “Saya punya usul lain. Begini. Kalau memang kamu serius
        mau  belajar  cuci  cetak  film,  sebaiknya  kamu  bikin  kamar  gelap  sendiri  di  tempat
        tinggalmu.  Jadi,  Asep  dan  saya  tetap  bisa  bantu,  tapi  kamu  juga  bebas  praktik  sendiri.

        Gimana?”

          Aku  dan  Asep  berpandangan.  Tanpa  diskusi  lebih  lanjut,  kami  sepakat  itulah  jalan
        terbaik.




        Pada  pertemuan  kami  selanjutnya,  sebuah  kamar  gelap  pun  resmi  berdiri  di  rumah
        panggung di Batu Luhur.


          Saat itu kerjaku masih berlepotan dan sering menempelkan filmku terbalik. Aku juga
        belum setelaten Asep untuk meratakan cairan dan mengerik sisa emulsi dari kertas foto.
        Seiring dengan waktu, aku menyadari bahwa satu-satunya cara untuk menguasai itu semua
        adalah dengan sering berlatih dan sering gagal.

          Lama-kelamaan, membuka film, memasangkannya di gulungan dan memprosesnya di
        dalam kanister menjadi aktivitas biasa. Lama-kelamaan, menyetel pencahayaan, menjaga
        fokus,  membidik,  menjadi  pekerjaan  yang  tak  sulit  lagi.  Hingga  akhirnya  kegiatan

        memotret dan mencuci-cetak film menjadi rutinitas harianku selain mengajar.
          Lama-kelamaan, Bukit Jambul menjadi tempat yang tidak lagi mengerikan. Di sanalah

        tempatku berekreasi setiap akhir pekan. Di sanalah surga bagi hobi fotografiku, tempat
        objek-objek fotoku berkumpul dan memunculkan dirinya dengan ajaib dan tak terduga.

          Belukar yang tadinya seperti neraka menjadi gerbang yang familier. Telah kutemukan
        tidak hanya satu jalan setapak di Bukit Jambul, tetapi empat, melingkupi bukit itu bagai
        empat jalur benang tipis. Keempat jalur yang bertujuan akhir sama: puncak. Kini, sudah
        amat sering kuinjakkan kaki di tanah lapang tak berpohon di puncak bukit itu. Dan, tak
        sekali pun ia menyedot energiku seperti dulu. Seolah ditundukkan mantra penetral, tempat

        itu berubah total. Ia menjadi lapangan biasa.

          Ketika aku akhirnya memiliki sebuah alat yang bisa mendokumentasikan dengan baik
        apa  yang  kulihat,  tak  pernah  lagi  kutemukan  jamur  merah  bertotol  putih  itu.  Tidak  di
        puncaknya, dan tidak juga di sekujur Bukit Jambul.

          Di mata penduduk, Bukit Jambul tetap bertahan menjadi tempat angker. Bagiku, Bukit
        Jambul  adalah  tempat  piknik.  Betapapun  aku  mengapresiasi  keindahannya,  diam-diam

        ternyata  aku  merindukan  sisi  misteriusnya.  Dan,  entah  kapan  lagi  sisi  itu  sudi
        menyuguhkan misterinya kepadaku.

          Melihat lagi ke belakang, aku rasa Bukit Jambul sengaja menahan diri. Ada kejutan lain
        dari paket hidupku yang sudah menunggu gilirannya muncul.
   84   85   86   87   88   89   90   91   92   93   94