Page 93 - Supernova 4, Partikel
P. 93

bayam dimasak bening bersama potongan jagung, tahu goreng, kue lapis. Menu spesialnya
        untukku.

          Kami bertiga makan malam. Dalam kesunyian.




        Subuh-subuh, deru halus knalpot mobil menyisip di kesunyian pagi. Sebuah sedan mewah
        berwarna putih berjaga di depan rumah. Aku tahu itu bukan taksi meski ia menunggui

        kami bagai taksi pesanan.

          Ibu  keluar  dari  kamarnya  dengan  baju  rapi  dan  wajah  dipulas  riasan  tipis.  Saking
        jarangnya ia memakai make-up, selapis bedak tabur dan seoles kilap lipstik saja terlihat
        sangat mencolok di wajahnya.

          “Ayo,  Zarah,  Hara.  Kalian  sarapan  di  jalan  saja,”  sapa  Ibu  sambil  menyiapkan  dua
        tempat  bekal  berisi  nasi  goreng.  “Kita  mengantar  Zarah  sampai  bandara,”  ia

        menambahkan, tanpa menjelaskan lebih jauh siapa “kita” yang dimaksud.
          Aku dan Hara terus-terusan saling lirik sembari mengikuti Ibu yang berjalan memasuki

        sedan putih itu. Sejuk udara AC dan harum pewangi mobil menyambut kami.

          Dari jok pengemudi, seorang pria berkemeja santri dengan peci serba putih tersenyum
        kepada kami yang terlongo-longo duduk di jok belakang mobilnya.

          “Ini  Zarah.  Ini  Hara,”  Ibu  memperkenalkan  kami.  “Ini  Kang—eh—Pak  Ridwan.”
        Terdengar nada gugupnya.

          Aku  dan  Hara  kembali  berpandangan.  Sepanjang  jalan  dari  Bogor  menuju  Bandara
        Soekarno-Hatta, kami menunggu penjelasan lebih lanjut dari Ibu tentang pengemudi itu.
        Namun, Ibu tak bersuara.


          Kami berempat berkendara. Dalam kesunyian.








                                                    Tanjung Puting


        Untuk  mengantar  satu  orang  pemenang  lomba  foto,  ternyata  dibutuhkan  lima  orang
        pendamping. Dua reporter, satu fotografer, dan dua orang lagi yang mewakili sponsor.

          Sepanjang  perjalanan  pesawat,  hampir  selalu  jidatku  menempel  di  kaca  jendela.  Dari
        mulai  melihat  arakan  awan  yang  bergumpal-gumpal  seperti  kapuk  terbang  sampai
        hamparan tanah Kalimantan di bawah sana, aku tak henti-hentinya terpukau dan terpukul.
        Berkesempatan  melihat  tanah  airku  dari  ribuan  kaki  di  atas  permukaan  laut

        menyadarkanku atas kebenaran kata-kata Ayah dulu. Hutan Kalimantan tidak selebat yang
        kubayangkan. Tampak bolong-bolong luas di mana-mana. Hutan yang tinggal jadi sejarah.
        Tebaran  atap  serta  padatnya  permukiman  manusia  terlihat  bagai  sel  kanker  yang
        menyebar.  Menggerogoti  hijaunya  hutan.  Dari  atas  sini,  aku  melihat  Kalimantan  yang
        terluka.
   88   89   90   91   92   93   94   95   96   97   98