Page 94 - Supernova 4, Partikel
P. 94

Pesawat  kami  tiba  di  Pangkalan  Bun  sekitar  pukul  11.00  siang  waktu  setempat.  Pak
        Mansyur,  pemandu  kami,  menjemput  di  bandara  dengan  mobil  Kijang.  Tak  sampai
        setengah jam, kami tiba di Kumai. Di tepi Sungai Kumai yang terbentang gagah dengan
        lebar  satu  kilometer,  tertambatlah  perahu  wisata  bertingkat  dua  miliknya,  yang  disebut
        juga “kelotok”.

          Kelotok  bercat  putih-biru  itu  ia  namai  Duyung.  Dari  keapikannya,  aku  bisa  melihat

        bagaimana Pak Mansyur begitu menyayangi perahu besar itu. Dengan penuh kebanggaan,
        ia  mengajak  kami  tur  singkat  menjelajahi  kelotok  sepanjang  20  meter  yang  dilengkapi
        generator itu. Hampir semua kegiatan dilakukan di dek. Di sana terdapat meja makan kayu
        yang bisa memuat sepuluh orang. Malam hari, dek disulap menjadi tempat tidur dengan
        menggelar  kasur-kasur,  kelambu,  dan  tirai  terpal.  Bagian  tengah  kelotok  disulapnya

        menjadi  ruangan  VIP  dengan  dua  tempat  tidur  bertingkat,  berseprai  putih  bersih,  kipas
        angin di sudut-sudut. Terdapat kamar mandi dengan pancuran serta WC duduk. Selain Pak
        Mansyur,  Duyung  masih  punya  tiga  awak  lainnya:  tukang  masak  bernama  Ratna,
        pengemudi kapal bernama Pak Sam, dan seorang kru serbaguna dan serbabisa bernama
        Deni.

          “Saya  berani  tanding  dengan  kelotok  wisata  lain,  Duyung  ini  kelotok  paling  terawat.
        Standar internasional,” jelas Pak Mansyur dengan tawa. Yang lain ikut tertawa karena tak

        yakin  ada  standardisasi  internasional  untuk  kelotok.  Hanya  aku  yang  sungguhan
        terkesima. Sebagai penghuni saung dan rumah panggung, kelotok Pak Mansyur bagiku
        adalah kemewahan bintang lima.

          Sungai  Kumai  ramai  oleh  perahu  lalu  lalang  dengan  berbagai  ukuran.  Berbagai
        kecepatan. Ketika perahu kami dan sejenisnya berjalan, aku baru sadar mengapa mereka
        menyebutnya  “kelotok”.  Selama  mesinnya  berputar  maka  yang  terdengar  adalah  bunyi
        “tokotokotokotokotok”. Lewat setengah jam, bunyi itu mulai meninabobokan. Sepoi angin

        yang menerpa dek mulai membuat mata kami merem-melek.
          Lalu lintas sungai pun melengang. Perahu kami bergerak ke arah kiri. Sungai menyempit

        hingga cuma lima puluh meteran. Warna air mengeruh. Pertanda kami telah tiba di Sungai
        Sekonyer.

          Pak  Mansyur  pun  melaksanakan  perannya  sebagai  pemandu  yang  baik.  Ia  berkisah
        tentang  Sungai  Sekonyer,  tentang  bagaimana  sungai  itu  terus-terusan  menelan  limbah
        tambang emas dalam jumlah besar dan bagaimana warnanya bertambah keruh dari hari ke
        hari.  Dulu,  selepas  Sungai  Kumai,  warna  Sungai  Sekonyer  masih  bening  kemerahan

        seperti dicelup teh. Sekarang, aliran utama Sekonyer sudah berubah menjadi air berwarna
        lumpur. Cokelat dan keruh.

          Pak Mansyur bercerita, baru-baru ini ia menemukan buaya mati terkapar seperti kena
        racun. Teman-temannya juga melihat kejadian serupa. Ia menghitung, ada sembilan buaya
        dilaporkan mati dalam kondisi serupa. Pak Mansyur juga pernah melihat bangkai rusa dan
        babi,  mengambang  di  sungai.  Tidak  ada  luka.  Mereka  curiga,  kematian-kematian  itu
        disebabkan oleh kerusakan ekosistem.


          Sepuluh  tahun  lalu,  masih  terlihat  pemandangan  orang  memancing  di  pinggir  sungai.
   89   90   91   92   93   94   95   96   97   98   99