Page 88 - Supernova 4, Partikel
P. 88

Meski gagal melacak pengirim paket, aku tak mau membuang waktu liburku. Begitu juga
        Pak Kas.

          Sesampainya aku di stasiun, Pak Kas menungguku di gerbang. Kami sudah janjian untuk
        pergi ke suatu tempat. Pelajaranku berikutnya.

          Angkot kami berhenti di dekat Pasar Bogor. Di antara jongko penjual baju dan buah, ada
        sebuah  kios  terbuat  dari  kayu  dicat  kuning.  Banyak  stempel  bergantung  dan  beberapa
        pigura  berisi  barisan  pasfoto.  Di  badan  kios  itu  tertulislah  dengan  cat  merah:  “Apdruk

        Poto Kilat & Stemfel: UJANG KRIBO”.

          “Sep! Asep!” Pak Kas mengetuk-ngetuk warung yang tertutup rapat itu.

          Dari dalam terdengar, “Bentar, Pak! Lagi cuci negatip, ini!”

          “Tak  tunggu  di  luar,  ya,”  sahut  Pak  Kas.  Ia  pun  jongkok  santai  sambil  menyalakan
        kereteknya. Aku ikut jongkok.

          Lima menit kemudian, keluarlah pria bernama Asep dari dalam kios. Rambut kribonya
        yang  besar  langsung  menarik  perhatianku.  Begitu  kontras  dengan  tubuhnya  yang
        kerempeng. Asep menyambut Pak Kas dengan tawa lebar.

          “Asep ini dulu kerja di studio bareng aku sebelum tempat itu bangkrut. Aku kenal Asep

        dari  dia  cuma  bisa  ngepel  lantai  sampai  jadi  tukang  cuci  cetak.  Sudah  seperti  keluarga
        sendiri.” Pak Kas menepuk bahu Asep. “Nah, Sep, ini lho, Zarah yang kuceritakan itu.
        Bapaknya kawan baik sama aku. Zarah ini lagi belajar fotografi. Aku bawa dia ke sini
        supaya dia bisa belajar sama kamu. Aku bilang ke dia, fotografer itu harus bisa cuci cetak
        film  sendiri.  Hasilnya  lebih  puas,  dan  lebih  mu—?”  Pak  Kas  melirikku.  Menungguku
        meneruskan kalimatnya.

          “Mulus,” tandasku.


          “Murah!” Pak Kas terkekeh.

          Asep membuka kios kecilnya bagi kami. “Kotak” kayu itu ternyata masih dibagi lagi
        menjadi dua sekat. Satu sekat adalah kamar gelap untuk pencucian film. Dan, satu sekat
        lagi  adalah  tempat  Asep  mengerjakan  stempel  sekaligus  tempat  untuknya  tidur—dalam
        posisi meringkuk. Kedua sekat tersebut dibatasi sehelai tirai.

          Dalam  sekat  yang  diperuntukkan  sebagai  kamar  gelap,  peralatan  yang  ada  hanyalah
        baki-baki  plastik  tempat  rol  negatif  direndam  dan  disulap  menjadi  foto.  Di  pojokan
        tampak  jeriken  plastik  berisi  cairan  emulsi  dan  rol  kertas  foto.  Terdapat  pula  beberapa

        bentangan benang dan jepitan jemuran tempat menggantung dan mengeringkan foto-foto.

          Di  dalam  kamar  gelap  itu,  kami  harus  melipat  badan  rapi-rapi  agar  bisa  muat  duduk
        berdua. Saat Asep harus menggoyang-goyangkan baki berisi cairan emulsi dan kertas foto,
        aku  terpaksa  mengungsi  ke  sekat  sebelah  dan  melongokkan  kepalaku  saja  untuk
        mengintip.

          “Gimana, gampang, toh?” kata Pak Kas yang menunggu di luar sejak tadi.
   83   84   85   86   87   88   89   90   91   92   93