Page 91 - Supernova 4, Partikel
P. 91

Berhubung sudah menghafal jadwal masing-masing, aku tak perlu memakai terawangan
        batin atau jasa detektif partikelir untuk menemukannya.

          Pak  Kas,  mengaso  di  trotoar  gerbang  patung  Ganesha  di  Kebun  Raya  Bogor,  sedang
        menghirup kopi dari gelas plastik saat kami menjumpainya.

          “Ada apa, kok, rombongan keluarga Firas cari aku hari gini?” sapanya sambil tertawa.

          Kutunjukkan halaman yang memuat fotoku. “Lihat, Pak.”

          Pak Kas membelalak. “Itu… foto kadalmu, kan? Jadi juara?”

          Aku  mengamati  ekspresinya  yang  kaget  betulan.  “Memangnya  bukan  Pak  Kas  yang

        kirim?”

          Pak Kas terlongo. “Ha? Maksudmu? Lha, bukan! Eh, selamat, ya! Hebat benar kamu,
        Zarah.”

          “Tapi, saya nggak pernah kirim foto ini, Pak,” sergahku. “Kok, tahu-tahu foto ini ikut
        perlombaan? Saya pikir Bapak yang kirim diam-diam.”

          “Mana tahu aku lomba-lomba begini?” ujar Pak Kas. “Wong, buka majalah saja hampir
        nggak pernah. Kalau lomba TTS, ya, aku tahu.”

          Kami  terdiam  dan  sama-sama  berpikir.  Pak  Kas  baru  saja  akan  menyulut  ujung
        kereteknya dengan api saat ia dan aku hampir berbarengan berseru:


          “Si Kribo!”
          “Asep!”


          Nyaris langsung kujitak kepala Asep saat kami bertiga mendatanginya ke kios afdruk.
        Pertama, aku yakin rambutnya yang membal akan menjadi peredam rasa sakit yang baik.
        Kedua,  aku  sungguh  terharu  dengan  perhatiannya.  Selama  ini  kupikir  Asep  pendiam
        sebagai bentuk alerginya terhadapku. Ia memang tak pernah sungkan membagi ilmu, tapi
        kupikir itu lebih karena suruhan Pak Kas ketimbang keinginannya sendiri.

          Aku  baru  sadar  ada  yang  tidak  beres  ketika  ekspresi  kagetnya  sama  tulennya dengan

        kekagetan Pak Kas waktu melihat foto itu dimuat.
          “Bukan kamu yang kirim, Sep? Yakin?” tudingku.


          “Demi  Allah!  Asep,  mah,  nggak  pernah  pegang  negatipnya  juga!  Mau  kirim  poto
        gimana caranya?” serunya sampai tersedak.

          “Sudah,  sudah.”  Pak  Kas  menepuk-nepuk  punggung  Asep,  lalu  menepuk-nepuk
        punggungku. “Nikmati sajalah. Fotomu juara, dapat hadiah. Kita semua senang. Memang
        sudah jatah hidupmu banyak kejutannya, Zarah.”

          Berat  hati,  kuakui  bahwa  Pak  Kas  benar.  Kesusahan,  kegembiraan,  ketika  keduanya
        lewat  tanpa  permisi,  maka  sensasinya  sama.  Seperti  menelan  bakso  tanpa  mengunyah.
        Membuat kita mencerna bulatan itu susah payah.
   86   87   88   89   90   91   92   93   94   95   96