Page 87 - Supernova 4, Partikel
P. 87

Aku mengangguk-angguk. Pura-pura mengerti.

          “Selain ganti-ganti setelan diafragma, kamu bisa atur ruang tajam fotomu menggunakan
        sebuah alat bernama ka—?” Pak Kas menanti jawabanku. Dan, aku hanya bengong.

          “Kaki!”  serunya.  “Maju  atau  mundur.  Begitu  lho,  Nduk.  Lensamu  itu  lensa  fixed
        namanya. Jadi, kamu harus atur jarakmu sendiri. Kalau lensa zoom bisa kamu mainkan
        jaraknya,  tinggal  putar-putar  setelannya.  Tapi,  kalau  aku  lebih  suka  lensa  macam

        punyamu. Hasilnya lebih bagus. Kaki kita juga olahraga.”

          Selebihnya adalah menerjemahkan apa yang seharian dipaparkan oleh Pak Kas ke dalam
        praktik. Aku menghabiskan dua rol film hari itu. Puas rasanya.

          Kamera  memberi  saluran  bagi  kegemaranku  mengamati  tekstur  tanah,  kulit  pohon,
        liukan daun, dan warna bunga. Rasanya seperti mendapat sepasang mata baru. Lewat mata
        baruku itu, aku melukis cahaya di atas rol film.




        Ditemani Pak Kas, aku mencetak hasil kerjaku hari itu. Tak sabar ingin melihat foto-foto

        perdanaku.

          Seolah  ingin  menguji  kesabaran,  Pak  Kas  malah  menyembunyikan  foto-foto  itu,
        melihatnya sendirian, kemudian membaginya menjadi dua kelompok. Ia sembunyikan satu
        tumpukan di balik punggungnya, dan memberiku tumpukan satunya lagi.

          “Monggo, dilihat dulu,” ujarnya berseri-seri.

          Aku mengamati satu-satu, terpukau dan terpana. Lukisan cahayaku indah-indah. Dengan
        hati berbunga-bunga aku mengakui, Ayah benar. Aku betulan berbakat.

          “Gimana, puas?” tanya Pak Kas lagi.

          “Bagus-bagus, Pak,” aku berdecak. “Saya nggak nyangka.”


          “Ya,  terang  saja  bagus.  Wong  itu  aku  yang  motret.  Punyamu  yang  ini!”  Pak  Kas
        mengeluarkan tumpukan foto dari balik punggungnya.

          Foto paling atas dari tumpukan itu adalah foto rusa… yang seperti diguncang gempa,
        lalu ketumpahan tinta hitam dari langit. Singkat kata, goyang dan gelap.

                                                                                                             22.

        Pada  Senin  keesokannya,  aku  mohon  izin  tidak  masuk  mengajar.  Hari  itu  aku  pergi
        menaiki KRL ke Jakarta, menuju kantor pusat perusahaan kurir yang tercantum di resi.

          Ternyata  Hara  benar.  Orang  yang  mengirimkan  paket  itu  menggunakan  layanan  jasa
        pengiriman anonim. Ia sengaja tidak ingin dilacak. Kamera itu setidaknya telah berpindah

        dua  negara  sebelum  sampai  ke  Indonesia.  Satu-satunya  keterangan  yang  bisa  kudapat
        adalah, sebelum Indonesia, negara terakhir yang dimampiri paket itu adalah Hong Kong.
        Keterangan  yang  tidak  punya  arti  apa-apa  karena  segala  rantai  pengiriman  dilakukan
        antarperusahaan. Tidak ada nama.

          Aku kembali pulang ke Bogor dengan tangan hampa.
   82   83   84   85   86   87   88   89   90   91   92