Page 173 - Supernova 6, Inteligensi Embun Pagi
P. 173

Keping 57


             “Elektra, kenalkan. Ini teman saya, Simon Hardiman,” kata
           Sati.

             “Selamat pagi,” sapa Simon.






           Jalanan yang mereka tempuh sudah mengecil dari beberapa

           kilometer lalu. Aspal mulus berganti menjadi aspal kasar
           dengan campuran pasir dan batu ukuran sedang. Bolak-balik
           sopir itu berdecak gusar demi mendemonstrasikan protes
           setiap Gio mengarahkannya ke jalur yang membawa mereka
           semakin jauh ke dalam kampung.
             “Ini sudah ladang semua, Mas. Nanti kita nggak bisa mutar,
           lho. Repot kita.”
             Perhatian Gio tertuju kepada satu objek. Ia tak

           mengindahkan komentar sopirnya.
             “Mas! Sebentar lagi buntu, nih!” Sopir itu meningkatkan
           volume suaranya.
             “Oke, putar sekarang saja, Pak. Tapi, kita minggir dulu.”
           Gio akhirnya merespons.

             Dengan sigap sopir itu membanting setir. Setelah beberapa
           kali manuver maju-mundur, moncong mobil sewaan itu
           akhirnya berbalik arah.
             Gio melangkah turun, matanya terpaku pada sebuah
           bukit di kejauhan. Bukit itu mencuri perhatiannya sejak tadi.
           Sementara bukit-bukit tetangganya terlihat tipikal dengan



           158
   168   169   170   171   172   173   174   175   176   177   178