Page 175 - Supernova 6, Inteligensi Embun Pagi
P. 175

Keping 57


             Gio mengedarkan pandangan. Bendera merah itu ternyata
           bukan cuma satu. Setidaknya, lima yang tertangkap jelas

           matanya. Sisanya tampak sebagai titik-titik merah di kejauhan.
           Bukit rimbun itu dikelilingi semacam batas pengaman.
             “Bukit apa itu, Pak?”
             “Orang sini bilangnya Bukit Jambul, Den.”
             “Memangnya kenapa sampai nggak boleh masuk?”

             Petani itu tampak berpikir, seperti mencari penjelasan yang
           paling pas. “Bisa makan orang, Den,” katanya sambil menunjuk
           bukit.
             Gio sudah menaksir alasan seputar “angker” dan “keramat”,
           tapi jawaban petani itu di luar ekspektasinya. “Makan orang
           gimana?”
             “Tumbal.” Pandangan petani tua itu menerawang. “Bapak,
           anak, cucu. Habis semua.”

             Bagaimana cara petani itu berkata terasa bagai jejak yang
           masih segar dalam lorong memori. Gio menduga lawan
           bicaranya bukan sekadar menyebutkan legenda, melainkan
           kisah nyata yang belum lama terjadi.







           Alfa mengenali punggung Bodhi yang terbalut jaket jins
           lusuh, bersandar menghadap jalan di area parkir tempat mobil
           sewaannya berhenti. Alfa menebak-nebak berapa kali sudah
           Bodhi tergoda untuk menyetop kendaraan umum dan kabur



           160
   170   171   172   173   174   175   176   177   178   179   180