Page 178 - Supernova 6, Inteligensi Embun Pagi
P. 178

IntelIgensI embun PagI

              “Visual apa?”
              “Kamu benar-benar nggak lihat?”

              “Lihat apa?”
              Bodhi menunjuk pucuk sebuah pohon.  “Pohon itu,”
           ucapnya, “menurutmu, di mana batasnya?”
              Alfa mengedikkan bahu. “Di ujung daun?”
              “Fokus matamu pasti berhenti di tepi daun yang berbatasan

           dengan langit. Aku melihat lebih jauh dari itu. Dengan fokus
           yang beda, aku bisa lihat pohon itu masih punya medan warna
           di sekelilingnya. Biru muda.”
              “Aura, maksudmu?”
              “Dari kecil aku bisa menangkap yang orang lain nggak lihat.
           Tapi, nggak pernah seperti ini. Sekarang, aku bisa fokus melihat
           yang kumau. Kayak  setelan teropong.” Bodhi mendaratkan
           pandangannya, menatap Alfa. “Aku bisa lihat medan warna

           di sekelilingmu, dan masih bisa terus lagi. Bukan cuma aura.
           Aku juga lihat sirkuit listrik di badanmu, dan masih bisa terus
           lagi. Ada jaring yang mengikat tempat ini. Di mana-mana.
           Ke mana-mana.” Arah mata Bodhi terus bergerak seperti
           aliran air. “Jaring itu bahkan masih ada di Asko,” lanjut Bodhi

           setengah  berbisik. Genggamannya terbuka, menunjukkan
           batu pemberian Alfa. “Batu ini pecahan dari induk yang lebih
           besar. Dia nggak berasal dari sini. Batu ini terpecah belah
           sesuai dengan jumlah—apa istilahnya tadi?”
              “Peretas?”
              Bodhi tersenyum samar. “Ya. Peretas.”



                                                                 163
   173   174   175   176   177   178   179   180   181   182   183