Page 174 - Supernova 6, Inteligensi Embun Pagi
P. 174

IntelIgensI embun PagI

           ukiran terasering dan cuatan pokok yang tumbuh jarang-
           jarang, bukit satu itu megah berhias pohon-pohon besar

           yang rapat bak hutan perawan. Di tengah ladang pertanian
           modern yang berlapis plastik mulsa, berdirilah sebuah bukit
           yang seperti didatangkan dari zaman Megalitikum. Insting
           petualang Gio tergelitik.
              “Tunggu sebentar, ya, Pak,” seru Gio kepada sopir yang

           tampaknya memang tak berminat meninggalkan kursi kemudi.
              Dari sisa waktu yang ia miliki, Gio tahu ia tidak akan
           mungkin mencapai bukit itu. Ia hanya ingin melihatnya lebih
           dekat. Melangkah di atas pematang, Gio menembus hamparan
           pokok cabai dan tomat.
              “OI!” Seseorang berteriak keras.
              Gio menengok ke arah suara. Seorang petani tua tergopoh
           dari  arah  samping,  melambai-lambaikan  topinya.  “Ulah ka

                       13
           dinya, Jang!”  sambungnya. Baru ketika melihat wujud Gio
           dari dekat, petani itu meragu. “Eh, maaf, tidak boleh ke sana,”
           ujarnya kaku dengan bahasa Indonesia berlogat Sunda.
              “Kenapa memangnya, Pak?”
              Ketegangan petani itu sedikit mencair begitu tahu Gio

           ternyata bisa berbahasa Indonesia. Sambil terengah, petani itu
           menunjuk kain merah yang berkibar tertiup angin, terikat di
           tiang bambu yang menancap beberapa ratus meter di depan
                                               14
           mereka. “Dilarang sama kampung, Den . Itu batasnya.”
           13   Jangan ke sana (bahasa Sunda).
           14   Panggilan hormat untuk laki-laki muda (bahasa Sunda).


                                                                 159
   169   170   171   172   173   174   175   176   177   178   179