Page 180 - Supernova 6, Inteligensi Embun Pagi
P. 180

IntelIgensI embun PagI

              “Sati sudah lama cerita tentang kamu. Senang akhirnya kita

           bisa ketemu langsung,” kata Simon.
              Raut itu ramah dan garis mukanya membuat Simon
           tampak  selalu tersenyum. Dengan cepat  Elektra menyukai
           kawan barunya. Simon Hardiman seperti diangkat dari
           halaman  komik. Tipikal  karakter  bapak  lugu  yang  menjadi
           jagoan justru karena kepolosannya.

              “Kalau tidak cepat ditolong, kemampuanmu menyembuhkan
           bisa hilang sama sekali. Mau?” sambung Simon. Raut kocak
           itu berubah serius.
              Ragu, Elektra menggeleng.
              “Saya tidak bisa bantu kalau kamu tidak mengizinkan.
           Kamu harus memilih.”
              “Memilih apa, Pak?”

              “Ada dua pilihan, Elektra. Fokus pada tugasmu selama
           ini, berguna bagi banyak orang, menyalurkan bakatmu. Atau,
           fokus pada sisi lain dari bakatmu yang memungkinkan kamu
           bisa mengakses memori, mengetahui isi kepala orang. Sangat
           menggoda, kan? Tapi, ada harganya.”
              Jantung Elektra berdebar. Ucapan Simon terdengar

           menakutkan baginya.  “Kenapa harus dipilih? Saya sendiri
           nggak pernah minta dua-duanya ada.”
              “Kamu pikir kamu nggak pernah minta.” Simon tersenyum,
           sejenak mengembalikan keramahan di wajahnya. “Ada yang
           percaya  hidup  ini rangkaian insiden acak.  Ada juga yang
           percaya  hidup ini  rancangan besar  yang  sudah diatur dari



                                                                 165
   175   176   177   178   179   180   181   182   183   184   185