Page 188 - Supernova 6, Inteligensi Embun Pagi
P. 188

IntelIgensI embun PagI

              “Perkiraanku, kurang dari satu persen,” Liong menjawab,
           “dan terus menurun dengan berjalannya waktu.”
              “Nggak punya ban serep, tapi masih bisa jalan, kan?” tanya

           Bodhi.
              “Tidak pernah ada gugus yang berhasil kalau salah satu
           anggotanya tumbang. Keenam-enamnya harus berfungsi.”
              “Berarti, kita gagal?” gumam Bodhi.
              “Sudah kubilang. Hampir pasti,” jawab Liong lagi.
              “Jadi, untuk apa lagi kita di sini?” Alfa hampir berteriak.
              “Untuk keajaiban.”







           Suara Simon Hardiman terdengar menyejukkan. Intonasinya
           mengalun merdu dan kalimatnya mengalir lancar. Dalam
           proses hipnotis pun Elektra bisa menilai bahwa Simon
           terdengar berpengalaman. Seperti ia sudah melakukan proses
           yang serupa berkali-kali.
              “Di depanmu akan muncul dua pintu. Satu pintu akan
           membawamu ke tempat yang berbahagia. Tempat yang kamu
           sebut rumah.  Tempat kamu mewujudkan segala potensi
           yang baik dan positif. Kamu sudah lihat pintunya? Cukup
           mengangguk kalau sudah.”

              Seiring dengan kalimat Simon, dalam benak Elektra
           muncul dua buah pintu. Bentuknya persis sama. Pintu kayu
           bersirip warna abu-abu yang daunnya terbelah di tengah,
           persis pintu tua di rumahnya. Elektra pun mengangguk.


                                                                 173
   183   184   185   186   187   188   189   190   191   192   193