Page 189 - Supernova 6, Inteligensi Embun Pagi
P. 189
Keping 58
“Satu pintu lagi adalah pintu yang akan kamu kunci dan
tutup. Pintu itulah yang akan membawamu ke potensi yang
tidak kamu pilih, yang tidak membawa kebahagiaan. Kamu
tahu yang mana?”
Perasaan Elektra mengatakan pintu yang kiri. Ia tidak tahu
pasti. Bahkan, Elektra tak tahu visualisasinya sudah benar atau
belum. Sebagian besar pikirannya sibuk berceloteh betapa
konyolnya proses itu, betapa kepinginnya ia pulang ke Elektra
Pop, dan sepiring nasi goreng Mas Yono melintas. Elektra pun
mengangguk saja.
“Sekarang, buka pintu itu sebentar.”
Elektra mengikuti instruksi, mengkhayalkan pintu itu
terbuka, dan di luar dugaannya, ia kembali ke tempat abu-abu
yang ia lihat kali terakhir bersama Bodhi.
“Di tangan kamu ada obor. Kamu lihat?”
Elektra menunduk dan menemukan tangan kanannya
sudah menggenggam obor.
“Bakar tempat itu, lalu tinggalkan, tutup lagi pintunya.”
Tebersit rasa ragu, tapi Elektra tahu ia sudah tak bisa
mundur. Ia melemparkan obor dari tangannya, sekejap api
membesar dan melumat tembok batu itu seperti membakar
kertas. Elektra termangu menyaksikan kemusnahan yang baru
saja ia lakukan.
174

