Page 192 - Supernova 6, Inteligensi Embun Pagi
P. 192

IntelIgensI embun PagI

              Niat menggerakkan pikiran, Elektra mengulang perkataan
           Simon dalam hati. Kakinya melayang semakin tinggi dari
           permukaan tanah. Dirinya terbang.

              “Petir!”
              Menyeruak di hadapannya seperti dipahat dari gegana,
           seorang perempuan tinggi berbaju abu-abu muncul tiba-tiba.
              Menggantung bagai awan, Elektra menahan terbangnya.
           Wujud perempuan itu halus bagai kabut, semakin lama
           semakin  kabur seakan  udara yang  tadi memunculkannya
           mengisapnya kembali perlahan-lahan. Bintang Jatuh.
              “Elektra, terus ke atas.  Teruskan.” Suara Simon merdu
           memandu.

              Elektra bisa melihat perempuan itu ingin berkata sesuatu.
           Mulutnya membuka dan berkata-kata, tak terdengar apa.
           Wujudnya menyemu hampir tak terlihat. Elektra kembali
           mendongak dan meneruskan perjalanannya.






           Bodhi membungkuk merasakan napas Alfa. Masih terasa hawa
           hangat. Sangat tipis. Buru-buru, Bodhi mengecek denyut nadi
           di leher Alfa.  Sementara itu, kedua pendampingnya tampak
           pasrah di luar batas wajar. “Kenapa kalian diam saja?” tukas

           Bodhi.
              Tidak terganggu dengan sentakan Bodhi, Liong malah
           dengan anggunnya duduk bersila.  “Kamu sudah tahu apa
           artinya mati, Bodhi?”


                                                                 177
   187   188   189   190   191   192   193   194   195   196   197