Page 193 - Supernova 6, Inteligensi Embun Pagi
P. 193

Keping 58


             “Dia…  dia  nggak  mati, kan?”  tanya  Bodhi  dengan  suara
           gemetar. Bagi Infiltran, perkara hidup mati boleh jadi

           perkara biasa, tapi tidak bagi Bodhi. Tidak jika itu terjadi di
           hadapannya. Tidak untuk kali kedua.
             “Kami punya definisi lain tentang mati,” jawab Liong.
             “Setiap kali kesadaran kalian terputus dari tubuh, entah
           dalam kondisi mimpi, nyaris mati, atau mati betulan, kalian

           akan berbenturan dengan satu jerat yang sama,” timpal Kell.
           “Jerat itu bakal mewujud jadi apa saja, sesuai keinginan
           pikiranmu. Sinar terang, muka orang-orang yang kalian
           sayang, padang rumput, apa pun. Kadang-kadang kalian
           bertemu tempat menyeramkan. Api, gelap, tempat suram.
           Kalian lantas menyebutnya surga, neraka,  purgatory,  dan
           entah apa lagi. Apa pun wujudnya, jerat itu fungsinya satu.
           Menghapus ingatanmu, mengembalikanmu kembali ke

           siklus yang sama. Rutinitas yang sama. Kelahiran, kematian.
           Kalian menganggapnya wajar. Kami tidak. Karena kami tahu
           itu semua tipu daya. Kalian tidak seharusnya terjebak dalam
           jerat yang sama berulang-ulang. Cuma satu nama yang pantas
           mewakili kondisi itu….”

             “Penjara,” desis Bodhi. Lemas, ia mengistirahatkan kepala
           ke dalam benaman lututnya.
             “Mati yang sesungguhnya bukan urusan putusnya
           kesadaran dari tubuh. Mati adalah ketika kita lupa. Lupa kalau
           kita sebetulnya tidak harus jadi bagian dari penjara ini,” Liong
           menambahkan.



           178
   188   189   190   191   192   193   194   195   196   197   198