Page 196 - Supernova 6, Inteligensi Embun Pagi
P. 196
IntelIgensI embun PagI
kakinya sudah tidak ada. Elektra menangis untuk Kambing
dan Mami sekaligus. Dua makhluk kesayangan yang direnggut
darinya secara paksa. Ia teringat Dedi, yang usai memarahi
Watti, termenung lama di meja makan sambil memegang
Kambing yang cuma berkaki tiga. Dedi mampu menyambung
kabel putus, tapi tidak kaki boneka.
“Mami,” bisik Elektra. Ibu yang terlalu cepat
meninggalkannya. Ibu yang tidak pernah ia ingat jelas
wajahnya.
Melihat Elektra yang terpaku, Mami berdiri dan
menyerahkan Kambing ke tangan anaknya. Sekaligus, Elektra
merasakan keduanya lagi. Tangan halus ibunya dan tubuh kain
Kambing. Dalam hatinya, sesuatu bergemuruh. Mami telah
menyentuh bagian dari dirinya yang paling rapuh.
“Yuk, kita cari Dedi.” Mami menggamit tangannya dan
membawanya keluar dari kamar.
Elektra melihat lorong rumahnya memanjang dari
sebelumnya. Elektra bahkan tak bisa melihat lagi ujungnya
selain cahaya putih yang menyilaukan.
Dari belakang Elektra merasakan punggungnya ditepuk
halus.
“Tra,” sapa seorang laki-laki.
Elektra tak bisa berkata-kata. Dedi muncul di sampingnya.
Terlihat necis dan rapi. Satu-satunya Dedi berpenampilan
sementereng itu adalah saat pemakamannya sendiri. Dedi
didandani dengan jas, kemeja, dan dasi yang serasi. Elektra
181

