Page 197 - Supernova 6, Inteligensi Embun Pagi
P. 197

Keping 58


           ingat bagaimana kali pertama ia melongok ke peti mati Dedi

           dan nyaris tak mengenali ayahnya sendiri. Ke mana perginya
           laki-laki berkaus singlet dan celana tenis putih yang ia kenal?
             “Senang ya, kita kumpul lagi,” kata Mami sambil ikut
           merangkulkan tangan ke bahu Elektra.

             Senang? Elektra ingin menjerit. Ini bukan sekadar senang.
           Ini kesempurnaan. Mami dan Dedi tersenyum begitu tenang
           seolah tidak mengerti besarnya arti kehadiran mereka kembali
           di sisinya. Memang tidak akan ada yang mengerti.
             “Mami, Dedi, jangan pergi lagi.” Akhirnya, ada kalimat
           yang bisa Elektra ucapkan.

             “Kami nggak pernah ke mana-mana, Etra. Selalu di sini,”
           jawab Dedi.
             Ada sebagian kecil dari diri Elektra yang sayup
           mengingatkan bahwa semua itu hanya mimpi, cuma terjadi

           dalam kepalanya. Namun, yang mendominasi adalah sebagian
           besar dirinya yang menikmati kesungguhan momen itu. Dari
           mulai perasaan rindu yang menggigit hingga kehangatan
           sentuhan tangan orangtuanya. Segalanya terasa nyata.
             Mami, dengan gerakan kepalanya, menunjuk ke arah ujung

           lorong yang bercahaya. Tanpa berkata-kata, Mami dan Dedi
           menggiring Elektra menyusuri lorong itu semakin dalam.
           Cahaya  di  ujung sana  semakin terang, dan  anehnya, tidak
           menyilaukan. Ada kualitas kesejukan yang menenangkan. Rasa

           yang familier. Inikah surga? Pertanyaan itu tercetus spontan.



           182
   192   193   194   195   196   197   198   199   200   201   202