Page 195 - Supernova 6, Inteligensi Embun Pagi
P. 195

Keping 58


           Ketika  ia  mendekat  dengan  apa  yang  diduganya  sebagai
           batas langit, Elektra melihat cahaya putih itu mulai berubah.

           Berbentuk. Meski samar, Elektra mengenali rupa dan ruang
           yang mengingatkannya pada rumah keluarganya. Eleanor
           sebagaimana waktu ia kecil dulu. Bukan pascarenovasi Elektra
           Pop.
             Elektra melihat sekeliling. Rumah itu lebih rapi daripada

           yang ia ingat. Tidak ada tumpukan dus dan barang elektronik
           yang biasanya menghampar di mana-mana.
             “Etra… Etra….”  Terdengar suara perempuan dewasa
           memanggilnya dari kejauhan. Seperti datang dari ruangan
           lain.
             Elektra menyusuri lorong yang membawanya ke ruangan
           yang ia ketahui adalah kamar orangtuanya.
             “Etra,” panggil perempuan itu lagi.

             Elektra memasuki pintu yang terbuka. Di atas ranjang,
           duduklah seorang perempuan bertubuh langsing dengan
           rambut sebahu, tersenyum manis kepadanya.
             “Si Kambing sudah Mami jahit, Tra,” kata perempuan itu.
             Elektra  melihat  boneka  kain berwarna  cokelat,  bermata

           oranye bulat dengan juntaian ekor pendek dari benang wol
           hitam. Kambing, boneka kesayangannya, yang dibuat sendiri
           oleh Mami, pernah teramputasi satu kakinya karena ditarik
           terlalu keras oleh kakaknya, Watti. Elektra teringat raungan
           tangisnya saat  itu. Orang yang  membuatkan  Kambing
           sekaligus satu-satunya yang mampu menjahitkan kembali



           180
   190   191   192   193   194   195   196   197   198   199   200