Page 200 - Supernova 6, Inteligensi Embun Pagi
P. 200

IntelIgensI embun PagI

              Terdengar bunyi rencengan kunci yang beradu. Zarah
           memilih sebuah kunci paling besar yang berpasangan dengan

           pintu depan rumahnya. Setelah memutarnya dua kali,
           napasnya sejenak tertahan. Jemarinya mematung di gagang
           pintu.  Telinganya menangkap bunyi lain. Sudah ciri khas
           Abah membuat setapak batu pipih demi keamanan, termasuk
           di rumah anak-cucunya. Bunyi tapak kaki di atas batu kali

           tidak bisa disamarkan.
              Siaga, Zarah melirik ke samping bahu. Selain keluarganya
           di Bogor, tidak ada lagi yang tahu kedatangannya kemari.
              “Permisi.”
              Zarah balik badan. Suara itu asing. Sosok itu juga tidak ia
           kenal. Menyandang ransel, berbalut kemeja jins yang digulung
           hingga siku, seorang pria menganggukkan kepala dengan
           sopan sambil berkata, “Pagi. Ini rumahnya Zarah Amala?”

              Pria itu mengucapkan namanya seperti orang menghafal.
           “Ya. Saya sendiri,” jawab Zarah.
              “Hai.  Gio. Saya temannya Paul,” ucap  Gio  sambil
           menyorongkan tangan.
              Zarah menyambut jabat tangan itu dengan canggung.

           Sebagian dari dirinya masih memproses apa yang baru saja ia
           dengar. “Paul? Maksudnya, Paul Daly?”
              “Cro-Mag.” Gio mengangguk sambil tersenyum hangat.
              Senyum merekah dengan tertahan di wajah Zarah, terjegal
           oleh kebingungan. Ini benar-benar kejutan. “Tahu alamat ini
           dari mana?” tanyanya.



                                                                 185
   195   196   197   198   199   200   201   202   203   204   205