Page 202 - Supernova 6, Inteligensi Embun Pagi
P. 202
IntelIgensI embun PagI
“Oke. Kalau gitu, makasih untuk waktunya. Saya pamit
dulu.” Gio bersiap melangkah mundur dan menutup perjalanan
panjang yang konyol ini.
“Kamu tinggal dekat sini?”
“Nggak juga. Di Jakarta Selatan.”
“Jadi, sengaja jauh-jauh dari Jakarta kemari? Naik apa?”
“Saya carter mobil. Dan, eh, sebenarnya saya sudah datang
dari sejam yang lalu, tapi rumah ini masih kosong, jadi saya
tadi keliling-keliling dulu.”
Zarah berdecak. “Kamu pasti sayang banget sama Paul.”
“Ya, sayang banget,” sahut Gio. “Eh, bukan sayang yang,
maksudnya, kami pernah dekat, bukan dekat gimana juga sih,
tapi, kami akrab yang, yah… you know?” Gio sibuk meralat dan
akhirnya kelelahan sendiri.
Zarah tak kuat menahan senyum geli.
Melihat Zarah mulai mencair, Gio ikut tersenyum lega.
“He’s Cro-Mag. We all love him. Tahu sendiri dia gimana, kan?”
“So sweet of him, and so sweet of you. Terima kasih. Saya
baik-baik saja. Kamu bisa bilang ke Paul kalau dia telepon
kamu lagi.”
“Oke. Nanti saya sampaikan.”
Zarah bisa melihat Gio bersiap akan pamit, tapi ada
keraguan yang menahan mereka berdua.
“Sori, saya nggak bisa menyuguhkan apa-apa di dalam,
ini rumah kosong….” Refleks, Zarah merogoh tasnya dan
mengeluarkan sebotol air minum yang masih utuh. “Minum?”
187

