Page 203 - Supernova 6, Inteligensi Embun Pagi
P. 203

Keping 59


             Gio menyadari situasi ganjil itu. Entah apa yang

           menggerakkan Zarah tahu-tahu menawarkan minum.
           Mungkin murni kebetulan. Mungkin karena kehabisan cara
           berbasa-basi. Atau kehausannya yang meradang memang
           sudah kentara.  Tidak ada yang lebih menggiurkan baginya

           saat itu selain meneguk air.
             “Punya saya tadi habis di jalan. Boleh?” Gio memijat pelipis
           kanannya yang berdenyut nyeri.
             “Ambil saja. Saya masih ada lagi.”
             “Makasih,” ucap Gio yang langsung mendaratkan tubuhnya
           di kursi bambu, menenggak tandas isi botol itu.

             Tak lama, Zarah meraih botol kedua, duduk di bangku
           sebelah Gio dan ikut minum. Berharap sakit kepala yang
           menghantamnya sejak memasuki desa akan mengalir pergi
           terbasuh air.

             “Ini rumah kosong? Kamu nggak tinggal di sini lagi?” tanya
           Gio.
             “Keluarga saya sudah pindah ke Bogor kota. Saya yang
           bakal tinggal di sini. Saya datang tadinya cuma mau bersih-
           bersih.”

             “Sendirian?”
             “Rumah kecil, kok. Sendiri juga bisa.”
             “Saya bantu.”
             “Ng—nggak usah,” sahut Zarah. Tak menyangka Gio akan

           menawarkan bantuan dengan sebegitu ringan.



           188
   198   199   200   201   202   203   204   205   206   207   208