Page 204 - Supernova 6, Inteligensi Embun Pagi
P. 204
IntelIgensI embun PagI
“Saya datang jauh-jauh ke Bogor cuma buat tanya ‘apa
kabar’ memang konyol. Kalau saya ikut bantu kamu, kunjungan
ini jadi jauh lebih berguna. Paul juga pasti sepakat.”
Zarah terdiam. Gio tampak sungguh-sungguh dengan
penawarannya. Akhirnya, Zarah mengangguk kecil. Ada
kelegaan yang tidak bisa ia jelaskan dengan tertundanya Gio
pergi. Orang yang baru saja dikenalnya. Orang yang seolah
muncul dibawa angin sama yang menggerakkan dedaunan
dan mengantar aroma mawar.
Terbiasa melihat makhluk-makhluk tak kasatmata sepanjang
hidupnya adalah alasan mengapa Bodhi bisa bertoleransi
dengan kehadiran makhluk yang mematung seperti tiang
hitam. Entah apa yang “diobrolkan” Liong bersama makhluk
itu dalam duduk diamnya. Sementara Bodhi belum berselera
untuk bicara banyak dengan Kell. Memperhatikan Alfa
menjadi satu-satunya kegiatan yang bisa ia lakukan.
Kelopak mata Alfa mulai bergerak-gerak. Bodhi sontak
bergerak maju. “Alfa, he, Alfa,” panggilnya sambil menepuk-
nepuk pipi Alfa.
Alfa tidak terbangun. Hanya bola mata di balik kelopaknya
yang bergerak cepat seperti orang sedang mimpi.
“Bodhi, biarkan dulu. Alfa akan terbangun kalau memang
dia bisa bangun. Menyadarkannya sekarang cuma akan
189

