Page 207 - Supernova 6, Inteligensi Embun Pagi
P. 207

Keping 59


           mencuat,  “sebentar, seharusnya pakai yang mana? Sendok,
           sedotan, atau dua-duanya?”

             “Kamu pikir gampang? Kamu pikir, dengan tahu semua
           taik kucing tentang Peretas, Infiltran, Sarvara, dan penjara
           keparat ini, aku bisa dengan mudah menerima kebangkitan
           kalian dari kubur?”
             “Secara teknis, kami nggak dikubur. Kami sama-sama

           dikremasi….”
             “Yang bikin aku bawa abu kalian ke mana-mana kayak
           orang sinting!” potong Bodhi.  “Kamu sekarang bicara di
           depanku, sementara serpihan tulangmu menggantung di
           sini,” Bodhi mencengkeram liontin kalungnya,  “dan, kamu
           berharap aku bisa bersikap seolah nggak terjadi apa-apa? Aku
           membopong mayatmu, Kell! Aku menaburkan abumu di laut!
           Aku memohon kepada wihara untuk diizinkan membawa

           secuil abu Guru Liong! Lalu, kalian tiba-tiba muncul kayak
           keluar dari topi tukang sulap! Guru Liong jadi anak umur
           tujuh belas tahun, sementara kamu… kamu….”
             “Lima tahun lebih muda dari versi di Bangkok dulu. It’s my
           prime look, as you can easily notice, I’m sure. Jangan tanya kenapa

           Liong memilih jadi remaja. Aku curiga itu karena dia nggak
           punya masa muda yang bahagia. Look, Bodhi. Percayalah. Itu
           nggak seaneh yang kamu pikir….”
             “Nggak aneh?” teriak Bodhi.
             “Kami memang bisa memilih bentuk mana saja yang kami
           mau. Harusnya kamu bersyukur aku tidak kembali menjadi



           192
   202   203   204   205   206   207   208   209   210   211   212