Page 210 - Supernova 6, Inteligensi Embun Pagi
P. 210

IntelIgensI embun PagI

              Kell menunjuk Bodhi dengan sendok cendolnya. “You’re so
           close.”

              “Dari mana asalnya batu ini?”
              “Ada  yang  bisa kuberi tahu. Ada  yang  harus kamu  cari
           sendiri. Untuk pertanyaan barusan, aku akan mengambil sikap
           seperti Liong. Kategori kedua,” jawab Kell. Ia mengangkat
           tangan tinggi demi menangkap perhatian tukang cendol. “Pak!

           Tambah satu!” teriaknya.
              “Bukan cuma ngerti, sekarang kamu juga bisa bahasa
           Indonesia?” tanya Bodhi heran.
              “Itu kategori pertama. Bisa kujawab. Infiltran punya
           program linguistik segala bahasa. Bergantung kami mau aktif
           memakai yang mana. Untuk percakapan bahasa Indonesia,
           barusan aku putuskan, cukup untuk aku bisa memesan
           makanan dan minuman.”

              Tak  lama, segelas  cendol  bermandikan saus  gula  merah
           diantar ke meja mereka. “Come to Papa.” Kell menyambutnya
           dengan mata berbinar.
              “Kematian sama sekali tidak mengubahmu,” cetus Bodhi.
              “Omong kosong. Setiap kematian mengajarkanku sesuatu,

           yakni lebih lihai menikmati hidup,” jawab Kell sambil
           mengaduk kuah santan yang berangsur berubah warna. “Kamu
           yakin nggak mau tambah?”
              Bodhi menghela napas panjang. Ia bahkan belum mencicip
           setetes pun gelas cendol yang sebelumnya.
              “Pak! Satu lagi!” teriak Kell dengan tangan teracung.



                                                                 195
   205   206   207   208   209   210   211   212   213   214   215