Page 218 - Supernova 6, Inteligensi Embun Pagi
P. 218

IntelIgensI embun PagI

              “Selain tampungan air hujan yang tadi kita pakai ngepel, air
           di dalam rumah belum jalan. Pompanya rusak. Belum sempat

           diganti.” Zarah tersenyum masam.  “Atau mau numpang di
           rumah ibuku? Sepeda bisa aku tinggal di sini. Kalau naik
           mobil nggak lama, kok.”
              “Yakin nggak apa-apa aku numpang sebentar?” tanya Gio
           hati-hati. Kunjungan ini melebar di luar dari antisipasinya.

              “Cuma ke kamar mandi, Gio.”
              “Ya,  tapi….”  Gio  tampak  gelisah.  “Ada  kaus,  atau  apa
           kek, yang bisa saya pinjam? Kemeja ini sudah kayak kecebur
           sumur.”
              “Sembilan puluh persen bajuku adalah kaus  all-size
           pembagian NGO yang muat di badan Paul Daly. Aman,”
           jawab Zarah mantap.







           Begitu mereka melangkah keluar dari mobil, barulah Zarah
           tersadar  bahwa  ide  spontannya  mengajak  Gio  ke  rumah
           ibunya, yang tadi terasa wajar dan biasa-biasa saja, ternyata

           adalah ide buruk.
              Satu-satunya teman yang pernah Zarah bawa ke rumah
           adalah Koso. Terjadi belasan tahun lalu saat ia masih SMA.
           Setelah itu, kehidupan Zarah seolah terjadi di alam lain, tak
           tersentuh keluarganya sama sekali. Zarah membayangkan apa
           yang  akan  dipikirkan  ibunya nanti. Baru dua  hari  anaknya



                                                                 203
   213   214   215   216   217   218   219   220   221   222   223