Page 580 - Supernova 6, Inteligensi Embun Pagi
P. 580

IntelIgensI embun PagI

              Mereka berenam menerima kantong itu dan mulai
           memasukkan batu masing-masing. Ronggur menyerahkan
           satu lagi kepada Gio. “Dia titip batunya sama kau, kan?

              “Dia?”
              “Puncak.”
              Butuh  beberapa  saat sebelum Gio paham siapa yang
           dimaksud. “Oh, iya. Terima kasih,” katanya seraya menerima
           helai kantong yang diberikan Ronggur.
              “Kuat kau rupanya bawa dua?” Ronggur menepuk
           punggungnya.
              Gio tertegun. Pertanyaan Ronggur seperti tidak menuntut
           jawaban, melainkan pernyataan simpati. Dua batu berukuran

           kecil itu tidak punya signifikansi dari segi bobot fisik. Namun,
           ia dan Ronggur seolah berbagi pemahaman serupa. Batu kecil
           itu melambangkan perjuangan mereka semua.
              “Berapa jauh bukitnya dari sini, Pak?” tanya Zarah kepada
           Ronggur.
              “Dua jam jalan santai. Satu jam jalan cepat. Itu baru sampai
           kakinya saja,” jawab Ronggur.
              “Kenapa tadi tak langsung kita mendarat di dekat bukit,
           Ompu?” protes Alfa.
              “Ini tempat yang paling tersembunyi. Mau kau, satu
           kampung tahu kau datang?”
              “Nggak, Ompu,” jawab Alfa gugup.

              Kegugupan  Alfa  memicu  tanda  siaga  Ronggur.  Ia
           mengedarkan pandangannya.  “Kalian tak kasih tahu siapa-
           siapa bakal kemari, kan?”


                                                                 565
   575   576   577   578   579   580   581   582   583   584   585