Page 619 - Supernova 6, Inteligensi Embun Pagi
P. 619

Keping 90


           insani / Mata airmu dari Solo / Terkurung gunung seribu / Air
           mengalir sampai jauh / Akhirnya ke laut….”

             Seolah menanggapi nyanyian asing yang berkumandang
           lemah di bukit kekuasaannya, kicauan burung murai tahu-
           tahu menyahut lantang. Kedua nyanyian itu melarutkan sisa
           ketegangan Zarah, mengalirkannya dalam isak, tawa, dan air
           mata yang tumpang-tindih tak keruan.

             “Lagu di Patagonia,” bisik Gio lagi.
             Ingatan Zarah seketika melayang kepada Paul Daly dan
           sebaris tulisan Paul pada hari ulang tahunnya. A woman who
           has everything. Hari-hari berlalu dan tak pernah sekali pun ia
           memahami alasan Paul menuliskannya. Zarah selalu percaya ia
           adalah manusia yang terlahir untuk berduka dan terluka.
             Percakapan terakhirnya dengan Kas pun mengiang. Sulit
           bagi Zarah untuk percaya bahwa rangkaian peristiwa dalam

           hidupnya adalah jalur yang terbaik. Namun, detik itu akhirnya
           Zarah memahami ke mana semua pilihan itu bermuara.
             Masa lalu, masa depan, dan masa kini melebur dan
           menggenapinya. Zarah memejamkan mata. Tak ada waktu dan
           tempat lain yang ia inginkan selain saat ini, di dalam dekapan

           seseorang yang akhirnya mengizinkan Zarah merasa sungguh
           memiliki segalanya.











           604
   614   615   616   617   618   619   620   621   622   623   624