Page 686 - Supernova 6, Inteligensi Embun Pagi
P. 686

IntelIgensI embun PagI

           bersama Dedi dan mobil buntungnya. Mainan-mainannya
           yang tak pernah baru karena selalu berhasil diperbaiki Dedi.

           Watti yang bertingkah laku bak seorang putri di tengah
           kerajaan rongsokan.
              Elektra tersenyum. Perasaan yang tak ia sangka-sangka
           menyembul hadir. Ia rindu kakaknya. Mungkin hanya dalam
           situasi sentimental seperti inilah memiliki Watti sebagai kakak

           menjadi tak terlalu buruk.
              Pintu  depan  membuka,  Toni  berjalan  ke  arahnya.
           Rambutnya masih basah dan tak tersisir seperti biasa.
              “Jadi Peretas bikin kamu rajin mandi,” cetus Elektra.
              “Daki dari kemarin kayak nggak habis-habis. Nanti luluran,
           ah,” kata Toni dengan ekspresi datar.
              “Kamu nggak pulang ke rumah?”
              “Rumah saya, kan, di sini.”

              “Nggak pamitan sama keluarga?” tanya Elektra lagi.
           “Keluarga biologis.”
              “Habis dari sini. Mungkin. Nggak tahu juga mau ngomong
           apa.”
              “Bong?” tanya Elektra hati-hati.

              Terdengar napas Toni menghela berat. “Liong bilang untuk
           nggak menghubungi dia, atau siapa pun dari gugus Kandara.
           Saya  punya  feeling nggak  enak soal  Bong. Tapi,  saya  nggak
           mau ambil risiko. Kalian terlalu penting.”
              Elektra ingin berkata bahwa “kalian” tidak lagi tepat. Toni
           sudah menjadi bagian dari mereka. Hanya saja, kenyataan itu



                                                                 671
   681   682   683   684   685   686   687   688   689   690   691